Minggu, 10 Maret 2013

Sajak-sajak Budi Nando

Lonceng Sekolah
-nak

teng!
ketakutan menyebar
dalam kesiapan setengah
aku menuju sekolah
menanggung lapar
dengan raut yang masih mengerucut

teng!
kembali ia memanggil
menjemput yang belum sudah
atau menanggung beban masa depan
tas yang diisi dengan batu dan palu
menyegera berkuli
untuk menanggung malu

teng!
sejenak
aku menngejar lapar
tadi pagi
sebab sore, masih banyak lagi
yang mesti aku gali

teng!
matahari mulai bergulir
mari, kumpulkan perkakas kuli
berhenti mengukir hanya untuk hari ini
sedang esok, belum dikabari
Kubu, 12

Cumancik*

satu
mari, sama kita mencari jaga. dari kumpulan tangan, bersorak
untuk bersama. yang beda,haruslah jaga
dua
bukan tersisih atau menyisih, tapi janji sudah dulu disepakati
kau seorang harus mencari, kami yang lari dan bersembunyi
tiga
yang tertangkap tak berarti mati. masih ada kawan yang memberi.
agar kau tak jadi pencari. kami bantu dengan badan sembunyi. mengintip
si  jaga, menatap kian kemari
empat
bila semua tak tertangkap, jagalah telur yang kau peram. kami tak kan keluar
dan berhenti
lima
cumancik, kau jangan pergi!
Kubu, 11

*permainan seperti petak umpat

Mengukur Bayang-Bayang

sebelum melepas jawab
kaca telah kita pecahkan
agar bayang-bayang
tak meninggi dari badan
Kubu, 12

Dukun Kampung
-121212

berjanjilah pada jam dan almanak
agar angka-angka tak mengelak
dan kau segera bertindak
Kubu, 12

Seragam Anak

masih dalam sisa kantuk semalam
anak-anakku berangkat
menuju hari yang berat
mengangkut bekal sebanyak harapan
biar tak dilindas zaman
Kubu, 12

Uniang

aku belajar kaya, namun mimpi tak terangkut. sebab mimpi,
merubah nasib takut

jejakku sudah menjalar di lantai, bauku sudah menyengat di dinding
dan nafasku sudah menyatu dalam sekerat kopimu

niang, hidup tidaklah kejam. seperti ucap orang diam
kau berikan pena, untuk menuliskan uang
hingga kertas tak sanggup menghitung

niang, hari tidaklah sulit. seperti ucap orang pelit
kau berikan ular untuk dibesarkan
hingga hari sering digulung

di tiap senja menyapa, kau berkata “jangan sampai
ular melilit dan mematuk dirimu”
Kubu, 11

Budi Nando, di

Sumber

85 Kali Dimainkan, Persiapan "Sampek Engtay" Sebentar

Nano Riantiarno, sutradara lakon "Sampek Engtay" dari Teater Koma, mengungkapkan persiapan pentas kisah cinta dari Tiongkok itu memakan waktu 2,5 bulan, lebih pendek dari persiapan lakon lainnya.

Biasanya, Teater Koma butuh waktu empat bulan untuk mempersiapkan sebuah lakon, lanjut Nano. Namun, Sampek Engtay menjadi perkecualian karena merupakan lakon yang sering dimainkan.

Pada 2004, lakon yang disadur Nano Riantiarno dari 13 versi itu mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia sebagai pentas teater yang sudah ditampilkan sebanyak 80 kali selama 16 tahun dengan tujuh pemain dan empat pemusik yang sama. Sejak 1988, "Sampek Engtay" sudah dimainkan sebanyak 85 kali.

"Sampek Engtay, Bukan Cinta Yang Biasa" yang akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, 13-23 Maret 2013, menampilkan Ade Firman Hakim sebagai Sampek, sementara Engtay dimainkan Tuti Hartati.

"Kebanyakan pemain sudah pernah ikut, tapi perannya beda. Yang paling baru itu Ade, jadi dia yang paling saya 'gedor'. Kalau pemain lain latihan sampai Jumat, Ade Minggu juga latihan," tutur Nano di Jakarta, Rabu.

Lakon berdurasi sekitar tiga jam itu akan diramaikan juga oleh Ratna Riantiarno, Budi Ros, Dorias Pribadi, Rita Matu Mona, Emmanuel Handoyo, Dudung Hadi, Rangga Riantiarno, Alex Fatahillah, Anneke Sihombing, Andhini Puteri, dan Pandoyo Adinugroho.

"Sampek Engtay" kali ini merupakan produksi ke-127 dari teater yang telah berdiri selama 36 tahun. Ratna Riantiarno, salah satu pendiri Teater Koma, mengatakan, teater itu rasanya sudah menjadi keluarga besar baginya.

"Ada yang dari bujangan sampai punya cucu masih di Teater Koma, ikut berkembang selama puluhan tahun," kata dia.

Sumber

Sabtu, 09 Maret 2013

Saksofon Bikin Rukun

Kesamaan hobi memainkan alat musik tiup saksofon menyatukan banyak orang dari berbagai kalangan dan generasi. Saksofon ”agawe” (bikin) rukun, begitu para anggota komunitas Rumah Tiup memaknainya. 

Lagu ”Ayah” mengalun dari tiga saksofon menerobos pelataran rumah di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (28/2) sore. Berulang-ulang lagu gubahan Rinto Harahap tersebut dimainkan. Sesekali terdengar nada yang kurang pas, tetapi kemudian ”dikoreksi,” agar terdengar indah. Namanya juga latihan.

Begitulah, Rumah Tiup Tina Saxofon di Pasar Rebo itu memang selalu ramai pada sore hari sejak Jumat hingga Minggu. Itulah waktu berkumpul anggota komunitas untuk belajar dan mengenali seluk-beluk alat musik temuan Adolphe Sax itu. Adalah pasangan suami-istri Anton Prihardiyanto (54) dan Valentina Sri Yuniati (54) yang menggagas terbentuknya komunitas itu. Komunitas itu terbentuk dari ide Anton untuk mewadahi para penikmat yang ingin belajar meniup saksofon.

Hingga awal 2013 ini, setidaknya tercatat ada sekitar 1.900 anggota komunitas Rumah Tiup Tina Saxofon yang belajar alat musik itu dari Tina dan Anton. Mereka berasal dari berbagai kalangan: mahasiswa, tentara, polisi, pengusaha, dan karyawan. ”Bagi anggota komunitas yang berada di luar Jakarta, kami distribusikan materi lagu melalui internet,” ujar Tina.

Komunitas Rumah Tiup memiliki agenda rutin berkumpul pada Jumat, Sabtu, dan Minggu. Selain belajar, mereka juga berbagi kesulitan atau lagu baru.

Mimpi dan terwujud

Irwin Samudra (35), salah seorang anggota Rumah Tiup, dulu hanya bisa bermimpi untuk memiliki dan memainkan saksofon. Irwin, pekerja di perusahaan pelayaran itu, pada awalnya ragu untuk memiliki saksofon mengingat harganya yang di kisaran Rp 60 juta hingga Rp 100 juta. Keraguan Irwin itu sirna setelah tahu bahwa ada saksofon bekas bisa dibeli dengan harga Rp 7 juta. Dia mendapatkan saksofon berkelas, meski bekas, dengan merek Selmer Bundy II. Setelah memiliki saksofon, ia bergabung dengan komunitas Rumah Tiup sejak setahun lalu.

”Saya jatuh cinta pada suara rendah saksofon yang indah. Setiap kali mendengarkan lagu-lagu yang dimainkan menggunakan saksofon, hati rasanya bergetar,” ujar Irwin.

”Walaupun masih terus berlatih, waktu satu tahun sudah cukup untuk mendapatkan pengetahuan dasar bermain saksofon,” kata Irwin yang sudah berani

bermain di depan publik terbatas.

Kecintaan Dewanta terhadap saksofon juga tak bisa ditutup-tutupi lagi. Selain pada Selasa dan Sabtu yang padat pekerjaan, Dewanta bisa menghabiskan waktu belajar saksofon selama dua jam setiap hari. ”Saat ini, kalau ada pekerjaan yang bisa diselesaikan oleh orang-orang membantu saya, pekerjaan itu lebih sering saya serahkan kepada mereka. Saya lebih senang bermain saksofon,” ujar Dewanta sambil berkelakar.

Alat tiup itu mengambil hati Dewanta, terutama karena bentuknya yang unik dan cara memainkannya yang penuh gaya. ”Saya terinspirasi para pemain top saksofon. Setelah mempelajarinya, ternyata memang asyik, tidak terlalu sulit, dan membuat jatuh cinta,” kata Dewanta yang pernah belajar terompet selama dua tahun, tetapi akhirnya menyerah karena tidak juga mahir. 

Serba tiup

Komunitas Rumah Tiup tidak hanya mewadahi para penyuka saksofon. Komunitas ini mewadahi para penyuka alat tiup lain seperti trompet. Selain di Pasar Rebo, komunitas Rumah Tiup juga terbentuk di Cibubur dan Yogyakarta.

Di Cibubur, Didit (36) mendirikan d’Saxes Saxomunity Rumah Tiup Cibubur. Istri Didit, Lusia Diah Candra (34) juga pemain saksofon yang kemudian menjadi motor penggerak d’Saxes. Di Yogyakarta, Ardaseta Risma Yuda (32) juga membuat komunitas Rumah Tiup.

Anggota d’Saxes sudah mencapai sekitar 200 orang sejak komunitas itu didirikan pada 2010. Setiap Jumat malam, anggota komunitas berkumpul di markas d’Saxes dan bermain bersama dengan tema musik tertentu seperti yang sudah disepakati. Seperti pada Jumat malam lalu, komunitas itu memainkan lagu-lagu Batak dalam ajang yang disebut Batak Night.

Belajar saksofon, sebenarnya tidak sulit. Setidaknya, menurut Tina, ada tiga tahap untuk mempelajari saksofon. Pertama dan yang paling dasar adalah belajar membunyikan saksofon. Posisi dan ketepatan bibir di ujung alat tiup akan menentukan apakah saksofon bisa bunyi atau tidak. Tanpa itu, saksofon akan sulit berbunyi dan pelajaran selanjutnya akan sulit diteruskan.

Kedua, setelah saksofon bisa berbunyi, tahap yang harus dilalui adalah berlatih membidik nada atau solmisasi melalui pergerakan jari. Biasanya, pemula diajari solminasi pada nada dasar C, lalu beralih ke nada dasar lainnya. Dalam empat kali pertemuan, seorang pemula biasanya sudah bisa dengan lancar berpindah ke nada dasar di luar C. Ketiga, belajar beberapa lagu sederhana.

Selanjutnya nikmatilah hidup dengan saksofon.

Sumber

Puisi-puisi Abdul Hamid Nasution

Kopi Air Mata
Pagi ini kuseduh kopi air mata. Pilunya hati sesakkan mata.  Apa yang menjadi noda dalam diri hingga Tuhan menyembelih kasih dalam cinta. Aku tak pernah bermesra dengan dia. Apalagi satu celana.
Dalam hatiku hanya ada tanda tanya. Dia yang meninggalkanku semoga tak merana. Sebenarnya tak ada dosa. Hanya ada salah dan lupa. Kita tak perlu menadah dan berdoa. Biar Tuhan ampuni kita. Apa lagi hanya diam tanpa makna.
Kucoba meraba ikatan kita. Ikatan tanpa saudara. Melainkan ikatan menyambung cinta.
Aku yang punya kasih kini tinggal di pulau-pulau lupa. Lupa pada makna dosa. Dosa yang terasa di dada. Sebab cinta yang dituju bukanlah dia.
Masih pagi ini. Kumulai menjamah bara. Sebenarnya aku saja yang menyambung rasa. Tanpa sambutan dada.
Jadi aku tak boleh marah padamu yang berdusta dan meninggalkan kita beserta biji Nangka.

Rinduku Lesu di Dahan Rasau
Kenapa kita tak semesra dulu
Saat kau rangkul dengkul yang masih lugu
Waktu kau seperti burung yang  lesu di dahan rasau
Berkicau dalam salju kadang debu
Sekarang gigimu saja sudah dungu
Hatimu meraba jemu
Padaku, Rindumu tak bermutu
Lugumu merisau
Tak sampai jamku mengigau
Waktunya kutuai benih-benih galau
Yang sempat kau tanam dalam kalbu
Sebenarnya, apa yang kau maksud saat kita bergurau
Di sudut pilu

Jujur dalam Sepi

Palingan kau itu celingak cellinguk
Lihat aku yang gugup dalam degup
Karena tadi kau tersungkur dalam lebur yang gugur
Tambah lagi kau makan bubur yang uzur

Jadi, apakah kau merasa jujur ketika kata-katamu serasa guntur
Ah, aku rasa kau manusia setengan punah
Yang hidup dalam diam sejagad sumpah
Buktinya kau sudah lupa
Dengan janji yang terikat dengan pita

Besok-besok kau tak usah bangun lagi
Biar kau tak kusapa dalam janji sepi

Abdul Hamid  Nasution.  Kelahiran Angkola-Tapanuli Selatan 23 tahun lalu. Suka dunia jurnalistik dan sastra. Puisi-puisinya terbit di Riau Pos dan  Metro Riau. Puisinya juga tergabung dalam buku antologi puisi Sepotong Rindu dalam sarung. Ia mahasiswa Universitas Islam Riau. Aktif di Pers Mahasiswa AKLaMASI UIR.

Sumber

Teater Keliling Desa Pentas di Halaman Rumah

Komunitas teater Sego Gurih menggelar pementasan keliling bertajuk Purik selama dua bulan, Maret sampai April 2013. Dalam lakon yang naskahnya ditulis Wage Daksinarga itu, kelompok ini menghadirkan isu sosial ekonomi kalangan masyarakat bawah. ”Lakon kali ini cerita tentang sebuah bangunan keluarga kecil bahagia dan sejahtera, yang faktanya tak semudah iklan keluarga berencana di televisi,” kata pemain senior Sego Gurih, Elyandra Widharta, Rabu, 6 Maret 2013.

Praktek berkesenian kelompok ini sangat berbeda dengan kelompok teater arus besar. Kelompok teater yang berdiri pada 1998 ini memakai dialog dalam bahasa Jawa. Pentas dilakukan di ruang terbuka di kawasan pedesaan dan kampung pinggiran.

Pada pentas keliling ini, kelompok Sego Gurih tampil di tujuh tempat. Pada 1 Maret 2013, mereka tampil di kompleks Pasar Ngotho Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Pada 3 Maret 2013, mereka menggelar pentas di halaman rumah pelawak Yogyakarta, Yu Beruk, di Kampung Matrijeron, Yogyakarta. Sedangkan pada 5 Maret 2013, mereka tampil di Dusun Mbutuh Imogiri, Bantul, dan pada Kamis, 7 Maret 2013, mereka akan tampil di Kampung Kotagede. Sebagai penutup, pada 10 April 2013, pentas diselenggarakan di Padepokan Seni Wayang Ukur Mbah Kasman Mergangsan Tamansiswa.

Pertunjukan di halaman rumah seniman mengandung romantisme proses kreatif mereka dan hubungan dengan penonton yang merupakan warga setempat. “Penonton itu bagi kami masyarakat desa dan kampung,” katanya.

Seniman Sego Gurih kebanyakan alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta dari berbagai disiplin ilmu yang telah punya pekerjaan. Semua biaya penyelenggaraan ditanggung komunitas dan jaringannya, mulai dari konsumsi, pamflet, hingga sewa mobil pikap. ”Karena kami masuk desa-desa yang relatif sepi, praktis sulit untuk mengajak sponsor komersial masuk. Andalannya tetap jaringan,” kata Ely.

Sumber

Jumat, 08 Maret 2013

Padepokan Cak Nun Pentaskan Karya Anton Chekov

Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun akan menggelar uji peluncuran padepokan seninya Sanggar Kreativitas Manusia Yogyakarta yang terletak di Jalan Barokah nomor 287 Kadipiro, Bantul, Yogyakarta Jumat 8 Maret 2013.

Menurut juru bicara padepokan, Eko Nuryono, pada acara itu akan digelar pentas drama komedi  satu babak berjudul "Orang Kasar" karya Anton Chekov yang disadur almarhum WS Rendra. ”Ini masih sebagai pemanasan sebelum di-launching,” kata Eko Kamis 7 Maret 2013.

Pentas lakon teater di padepokan Cak Nun itu diisi komunitas dari Sanggar Kemanusiaan (Sarem) Yogyakarta. Lakon `Orang Kasar` berkisah tentang dua orang, seorang janda dan penagih hutang, yang saling berlaku kasar dalam tindakan maupun kata-kata. Tapi pada akhirnya keduanya jatuh cinta.

Janda itu, Nyonya Martopo, terus berkabung atas kematian suaminya, untuk membuktikan dia tetap setia, meski dia tahu sang suami mengkhianatinya. Celakanya, sang suami juga mewariskan hutang. Hidup sang janda terusik dengan kedatangan penagih hutang, Baitul Bilal. Nyonya Martopo menolak membayar hutang suaminya. Terjadilah adegan histeris, humoris, dan akhirnya romantis.

Sebelumnya Emha mengutarakan keinginannya untuk menjadikan kediamannya menjadi wadah interaksi para pelaku seni dan budaya. “Yang penting ada kegiatan seni dan budaya yang bisa terus berinteraksi di sini,” katanya. Menurut dia, keberadaan ruang seni di Yogyakarta perlu tumbuh lebuh meyebar dan masuk ke berbagai pelosok kampung sehingga mampu lebih dekat dengan warga.<

Sumber

Gotong Royong

Gotong Royong merupakan suatu kegiatan sosial yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dari jaman daulu kala hingga saat ini. Rasa kebersamaan ini muncul, karena adanya sikap sosial tanpa pamrih dari masing-masing individu untuk meringankan beban yang sedang dipikul.

Hanya di Indonesia,kita bisa menemukan sikap gotong royong ini karena di negara lain tidak ada sikap ini dikarenakan saling acuh tak acuh terhadap lingkungan di sekitarnya. Ini merupakan sikap positif yang harus di lestarikan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kokoh & kuat di segala lini.

Tidak hanya dipedesaan bisa kita jumpai sikap gotong royong,melainkan di daerah perkotaan pun bisa kita jumpai dengan mudah. Karena secara budaya, memang sudah di tanamkan sifat ini sejak kecil hingga dewasa.

Karena ini merupakan salah satu cermin yang membuat Indonesia bersatu dari sabang hingga merauke,walaupun berbeda agama,suku & warna kulit tapi kita tetap menjadi kesatuan yang kokoh.Inilah alah satu budaya bangsa yang membuat Indonesia,di puja & puji oleh bangsa lain karena budayanya yang unik & penuh toleransi antar sesame manusia.