Sabtu, 09 Maret 2013

Beranda » , » Saksofon Bikin Rukun

Saksofon Bikin Rukun

Kesamaan hobi memainkan alat musik tiup saksofon menyatukan banyak orang dari berbagai kalangan dan generasi. Saksofon ”agawe” (bikin) rukun, begitu para anggota komunitas Rumah Tiup memaknainya. 

Lagu ”Ayah” mengalun dari tiga saksofon menerobos pelataran rumah di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (28/2) sore. Berulang-ulang lagu gubahan Rinto Harahap tersebut dimainkan. Sesekali terdengar nada yang kurang pas, tetapi kemudian ”dikoreksi,” agar terdengar indah. Namanya juga latihan.

Begitulah, Rumah Tiup Tina Saxofon di Pasar Rebo itu memang selalu ramai pada sore hari sejak Jumat hingga Minggu. Itulah waktu berkumpul anggota komunitas untuk belajar dan mengenali seluk-beluk alat musik temuan Adolphe Sax itu. Adalah pasangan suami-istri Anton Prihardiyanto (54) dan Valentina Sri Yuniati (54) yang menggagas terbentuknya komunitas itu. Komunitas itu terbentuk dari ide Anton untuk mewadahi para penikmat yang ingin belajar meniup saksofon.

Hingga awal 2013 ini, setidaknya tercatat ada sekitar 1.900 anggota komunitas Rumah Tiup Tina Saxofon yang belajar alat musik itu dari Tina dan Anton. Mereka berasal dari berbagai kalangan: mahasiswa, tentara, polisi, pengusaha, dan karyawan. ”Bagi anggota komunitas yang berada di luar Jakarta, kami distribusikan materi lagu melalui internet,” ujar Tina.

Komunitas Rumah Tiup memiliki agenda rutin berkumpul pada Jumat, Sabtu, dan Minggu. Selain belajar, mereka juga berbagi kesulitan atau lagu baru.

Mimpi dan terwujud

Irwin Samudra (35), salah seorang anggota Rumah Tiup, dulu hanya bisa bermimpi untuk memiliki dan memainkan saksofon. Irwin, pekerja di perusahaan pelayaran itu, pada awalnya ragu untuk memiliki saksofon mengingat harganya yang di kisaran Rp 60 juta hingga Rp 100 juta. Keraguan Irwin itu sirna setelah tahu bahwa ada saksofon bekas bisa dibeli dengan harga Rp 7 juta. Dia mendapatkan saksofon berkelas, meski bekas, dengan merek Selmer Bundy II. Setelah memiliki saksofon, ia bergabung dengan komunitas Rumah Tiup sejak setahun lalu.

”Saya jatuh cinta pada suara rendah saksofon yang indah. Setiap kali mendengarkan lagu-lagu yang dimainkan menggunakan saksofon, hati rasanya bergetar,” ujar Irwin.

”Walaupun masih terus berlatih, waktu satu tahun sudah cukup untuk mendapatkan pengetahuan dasar bermain saksofon,” kata Irwin yang sudah berani

bermain di depan publik terbatas.

Kecintaan Dewanta terhadap saksofon juga tak bisa ditutup-tutupi lagi. Selain pada Selasa dan Sabtu yang padat pekerjaan, Dewanta bisa menghabiskan waktu belajar saksofon selama dua jam setiap hari. ”Saat ini, kalau ada pekerjaan yang bisa diselesaikan oleh orang-orang membantu saya, pekerjaan itu lebih sering saya serahkan kepada mereka. Saya lebih senang bermain saksofon,” ujar Dewanta sambil berkelakar.

Alat tiup itu mengambil hati Dewanta, terutama karena bentuknya yang unik dan cara memainkannya yang penuh gaya. ”Saya terinspirasi para pemain top saksofon. Setelah mempelajarinya, ternyata memang asyik, tidak terlalu sulit, dan membuat jatuh cinta,” kata Dewanta yang pernah belajar terompet selama dua tahun, tetapi akhirnya menyerah karena tidak juga mahir. 

Serba tiup

Komunitas Rumah Tiup tidak hanya mewadahi para penyuka saksofon. Komunitas ini mewadahi para penyuka alat tiup lain seperti trompet. Selain di Pasar Rebo, komunitas Rumah Tiup juga terbentuk di Cibubur dan Yogyakarta.

Di Cibubur, Didit (36) mendirikan d’Saxes Saxomunity Rumah Tiup Cibubur. Istri Didit, Lusia Diah Candra (34) juga pemain saksofon yang kemudian menjadi motor penggerak d’Saxes. Di Yogyakarta, Ardaseta Risma Yuda (32) juga membuat komunitas Rumah Tiup.

Anggota d’Saxes sudah mencapai sekitar 200 orang sejak komunitas itu didirikan pada 2010. Setiap Jumat malam, anggota komunitas berkumpul di markas d’Saxes dan bermain bersama dengan tema musik tertentu seperti yang sudah disepakati. Seperti pada Jumat malam lalu, komunitas itu memainkan lagu-lagu Batak dalam ajang yang disebut Batak Night.

Belajar saksofon, sebenarnya tidak sulit. Setidaknya, menurut Tina, ada tiga tahap untuk mempelajari saksofon. Pertama dan yang paling dasar adalah belajar membunyikan saksofon. Posisi dan ketepatan bibir di ujung alat tiup akan menentukan apakah saksofon bisa bunyi atau tidak. Tanpa itu, saksofon akan sulit berbunyi dan pelajaran selanjutnya akan sulit diteruskan.

Kedua, setelah saksofon bisa berbunyi, tahap yang harus dilalui adalah berlatih membidik nada atau solmisasi melalui pergerakan jari. Biasanya, pemula diajari solminasi pada nada dasar C, lalu beralih ke nada dasar lainnya. Dalam empat kali pertemuan, seorang pemula biasanya sudah bisa dengan lancar berpindah ke nada dasar di luar C. Ketiga, belajar beberapa lagu sederhana.

Selanjutnya nikmatilah hidup dengan saksofon.

Sumber