Belasan tahun Togarma Naibaho (62) memodifikasi dan mengembangkan alat-alat musik tradisional Batak. Dia bermimpi keindahan alat-alat musik dari tepian Danau Toba itu kekal di perantauan dan kampung halaman.
Suatu siang di rumah makan Toba Tabo (artinya ’Toba enak’), terdengar lengkingan jernih alat musik tiup talatoit. Rambatan suara lirihnya membangkitkan perasaan ngelangut.
Jika si peniup talatoit ingin mengirim lagu rindu, yang dikirimi pastilah meleleh hatinya. Kali ini si peniup suling, Togarma, ingin menggambarkan daya dan emosi alat musik itu.
”Suling ini sempat dilarang Belanda karena dituduh membuat gila anak gadis di kampung,” ujar Togarma tentang talatoit.
Alat musik dari bambu pendek dengan dua lubang di sisi kiri dan kanan itu dimainkan dengan meniup dari samping. Talatoit merupakan salah satu alat musik Batak yang ingin dibangkitkan Togarma.
”Alat musik ini di kampung saja sudah jarang dimainkan,” ujar Togarma yang membuat sendiri talatoit itu.
Nasib serupa membayangi instrumen garantung, ogung, odap, sulim, dan taganing yang menjadi bagian perangkat gondang atau ensambel musik khas Batak. Ada masanya ketika alat musik Batak yang dulu sering digunakan mengiringi upacara atau ritual tradisi Batak itu dijauhi karena kekhawatiran terkait dengan penyembahan berhala.
Padahal, alat-alat musik itu, menurut Togarma, pada dasarnya netral. Alat musik dapat pula menjadi pengantar doa memuliakan Tuhan.
Modifikasi instrumen
Togarma mempelajari filosofi, nada, dan bentuk fisik alat-alat musik Batak. Pada 2002, dia memodifikasi alat-alat itu, tetapi tetap mempertahankan ciri khas bunyi dan nadanya. Alat musik ogung (mirip gong) yang semula memiliki empat nada dimodifikasi menjadi 12 nada tanpa menghilangkan empat nada awal.
Setahun kemudian, tercipta taganing yang semula 7 nada menjadi 16 nada. Taganing, yang berupa sebaris alat musik pukul mirip kendang, dibuatnya menjadi tiga baris kendang. Berlanjut dengan hasapi, alat musik petik yang semula 2 senar dia jadikan 4 senar dilengkapi grip.
Garantung, yang mirip kolintang, aslinya 8 nada dikembangkan hingga 25 nada. Rentang nada yang hingga 2 oktaf kromatis membuat cakupan nada mirip piano. Lahir pula sulim (suling) 12 nada. Perubahan itu menambah kekayaan dan keluasan nada pada alat musik tradisi sehingga ruang berkreasi membesar.
Sebagian alat musik perkusi yang telah diutak-atik Togarma itu tak sekadar pembawa ritme, tetapi juga sanggup mengirim melodi. Alhasil, gondang Batak modifikasi itu mampu menjadi pengiring lagu, seperti halnya band.
”Saya membuat sulim, ogung, taganing, dan garantung diatonik agar dapat mengiringi lagu nada diatonis sehingga bisa bergabung dengan semua nada musik dunia,” ujarnya.
Riset untuk memodifikasi instrumen itu membutuhkan biaya, waktu, dan tenaga karena dia harus bolak-balik memperbaiki kegagalan dari berbagai sudut, seperti bunyi dan kepraktisan memainkan alat. Istri Togarma, Ida br Pangaribuan, seorang penari dan koreografer tortor, cukup bersabar. Dana keluarga sebagian tersedot untuk pengembangan instrumen musik itu.
”Saya tak memikirkan rumah atau kendaraan. Saya hanya ingin alat musik Batak tidak punah. Kalau nadanya makin kaya, harapannya makin sering dipakai orang sebagai musik pengiring lagu,” ujar Togarma yang masih mengontrak rumah di Jakarta dan ke mana-mana pergi dengan kendaraan umum itu.
”Saya gelisah kalau alat musik Batak tidak diselamatkan, nanti orang Batak akan kecurian. Sekarang saja sudah ada orang Batak yang merasa kehilangan musik tradisinya,” ujarnya.
Komunitas
Togarma dan kawan-kawan berinisiatif mempersatukan pelaku seni musik Batak dengan membentuk Komunitas Senang Seni Batak Toba.
Komunitas ini kemudian berubah menjadi Komunitas Senang Seni Batak (Kossba) agar puak Batak lain, seperti Karo, Pakpak/Dairi Mandailing, Angkola, dan Simalungun, dapat terlibat melestarikan budaya Batak.
Togarma didaulat menjadi pemimpin Kossba yang berdiri awal 2012. Anggota Kossba berlatih di rumah pengusaha Monang Sianipar yang juga pemilik Toba Tabo. ”Kami rutin berlatih dan tampil di sejumlah acara Batak,” ujarnya.
Togarma tak pernah melupakan persinggungannya dengan musik tradisi Batak. Ketika tumbuh besar di huta alias kampung, ia paling menantikan acara menonton Opera Sitilhang di sebuah lapangan segitiga dekat rumahnya.
Opera Sitilhang biasanya berlangsung selama sebulan dan grup seniman mengontrak di rumah toko milik keluarga Togarma.
Walaupun banyak jenis suara alat musik mampir ke telinganya, gondang dan uning-uningan yang paling meresap dalam kalbunya. Alat musik tradisi itu mendapatkan napasnya dalam ritual dan hiburan rakyat.
Agar alat musik itu lestari, ungkap Togarma, harus dikembangkan sebagai hiburan, tak hanya pengiring ritual. Ia menyimpan obsesi akan hidupnya orkestra gondang Batak di perantauan ataupun di tanah Batak. Dia yakin orkestra bernuansa etnik yang unik dapat tampil sejajar dengan orkestra ala Eropa.
Seni tepian Toba
Selain musik, Togarma juga mempelajari berbagai aspek budaya Batak selama 28 tahun. Awalnya, dia ingin mengembangkan skripsinya tentang rumah adat Batak menjadi buku. Dalam perjalanan menyusun buku itu, ia mendalami berbagai aspek budaya Batak.
”Pengetahuan tentang alat musik tersebut saya dapat saat mendalami arsitektur rumah Batak. Arsitektur rumah adat dan seni budaya saling terkait,” katanya.
”Begitu dalamnya misteri orang Batak sehingga tak habis-habis digali. Saya tak pernah puas sampai akhirnya berpuluh tahun meriset untuk naskah buku itu,” ujarnya.
Kini, sudah 234 halaman ditulisnya. Togarma ingin menuntaskan naskah buku itu tahun ini. Tulisan dia berjudul Metodologi Riset Seni Rupa dan Desain justru lebih dulu terbit.
Di Jakarta, ia membangun Sanggar Gorga. Ia membuat desain dan ukiran kayu bermotif Batak untuk panel interior. Ia membuat desain motif Batak untuk kaca hingga pakaian dan dekorasi perkawinan. Salah satu karyanya, berupa panel hiasan ukiran Batak, memperindah Gereja HKBP Sudirman.
Dari tanah perantauan Jakarta, Togarma ingin mewariskan jejak budaya Batak sebagai bagian dari pembentuk Indonesia bagi generasi berikutnya. ”Itu mimpi saya,” ujarnya.
Sumber