Minggu, 10 Maret 2013

Sajak-sajak Budi Nando

Lonceng Sekolah
-nak

teng!
ketakutan menyebar
dalam kesiapan setengah
aku menuju sekolah
menanggung lapar
dengan raut yang masih mengerucut

teng!
kembali ia memanggil
menjemput yang belum sudah
atau menanggung beban masa depan
tas yang diisi dengan batu dan palu
menyegera berkuli
untuk menanggung malu

teng!
sejenak
aku menngejar lapar
tadi pagi
sebab sore, masih banyak lagi
yang mesti aku gali

teng!
matahari mulai bergulir
mari, kumpulkan perkakas kuli
berhenti mengukir hanya untuk hari ini
sedang esok, belum dikabari
Kubu, 12

Cumancik*

satu
mari, sama kita mencari jaga. dari kumpulan tangan, bersorak
untuk bersama. yang beda,haruslah jaga
dua
bukan tersisih atau menyisih, tapi janji sudah dulu disepakati
kau seorang harus mencari, kami yang lari dan bersembunyi
tiga
yang tertangkap tak berarti mati. masih ada kawan yang memberi.
agar kau tak jadi pencari. kami bantu dengan badan sembunyi. mengintip
si  jaga, menatap kian kemari
empat
bila semua tak tertangkap, jagalah telur yang kau peram. kami tak kan keluar
dan berhenti
lima
cumancik, kau jangan pergi!
Kubu, 11

*permainan seperti petak umpat

Mengukur Bayang-Bayang

sebelum melepas jawab
kaca telah kita pecahkan
agar bayang-bayang
tak meninggi dari badan
Kubu, 12

Dukun Kampung
-121212

berjanjilah pada jam dan almanak
agar angka-angka tak mengelak
dan kau segera bertindak
Kubu, 12

Seragam Anak

masih dalam sisa kantuk semalam
anak-anakku berangkat
menuju hari yang berat
mengangkut bekal sebanyak harapan
biar tak dilindas zaman
Kubu, 12

Uniang

aku belajar kaya, namun mimpi tak terangkut. sebab mimpi,
merubah nasib takut

jejakku sudah menjalar di lantai, bauku sudah menyengat di dinding
dan nafasku sudah menyatu dalam sekerat kopimu

niang, hidup tidaklah kejam. seperti ucap orang diam
kau berikan pena, untuk menuliskan uang
hingga kertas tak sanggup menghitung

niang, hari tidaklah sulit. seperti ucap orang pelit
kau berikan ular untuk dibesarkan
hingga hari sering digulung

di tiap senja menyapa, kau berkata “jangan sampai
ular melilit dan mematuk dirimu”
Kubu, 11

Budi Nando, di

Sumber

85 Kali Dimainkan, Persiapan "Sampek Engtay" Sebentar

Nano Riantiarno, sutradara lakon "Sampek Engtay" dari Teater Koma, mengungkapkan persiapan pentas kisah cinta dari Tiongkok itu memakan waktu 2,5 bulan, lebih pendek dari persiapan lakon lainnya.

Biasanya, Teater Koma butuh waktu empat bulan untuk mempersiapkan sebuah lakon, lanjut Nano. Namun, Sampek Engtay menjadi perkecualian karena merupakan lakon yang sering dimainkan.

Pada 2004, lakon yang disadur Nano Riantiarno dari 13 versi itu mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia sebagai pentas teater yang sudah ditampilkan sebanyak 80 kali selama 16 tahun dengan tujuh pemain dan empat pemusik yang sama. Sejak 1988, "Sampek Engtay" sudah dimainkan sebanyak 85 kali.

"Sampek Engtay, Bukan Cinta Yang Biasa" yang akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, 13-23 Maret 2013, menampilkan Ade Firman Hakim sebagai Sampek, sementara Engtay dimainkan Tuti Hartati.

"Kebanyakan pemain sudah pernah ikut, tapi perannya beda. Yang paling baru itu Ade, jadi dia yang paling saya 'gedor'. Kalau pemain lain latihan sampai Jumat, Ade Minggu juga latihan," tutur Nano di Jakarta, Rabu.

Lakon berdurasi sekitar tiga jam itu akan diramaikan juga oleh Ratna Riantiarno, Budi Ros, Dorias Pribadi, Rita Matu Mona, Emmanuel Handoyo, Dudung Hadi, Rangga Riantiarno, Alex Fatahillah, Anneke Sihombing, Andhini Puteri, dan Pandoyo Adinugroho.

"Sampek Engtay" kali ini merupakan produksi ke-127 dari teater yang telah berdiri selama 36 tahun. Ratna Riantiarno, salah satu pendiri Teater Koma, mengatakan, teater itu rasanya sudah menjadi keluarga besar baginya.

"Ada yang dari bujangan sampai punya cucu masih di Teater Koma, ikut berkembang selama puluhan tahun," kata dia.

Sumber

Sabtu, 09 Maret 2013

Saksofon Bikin Rukun

Kesamaan hobi memainkan alat musik tiup saksofon menyatukan banyak orang dari berbagai kalangan dan generasi. Saksofon ”agawe” (bikin) rukun, begitu para anggota komunitas Rumah Tiup memaknainya. 

Lagu ”Ayah” mengalun dari tiga saksofon menerobos pelataran rumah di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (28/2) sore. Berulang-ulang lagu gubahan Rinto Harahap tersebut dimainkan. Sesekali terdengar nada yang kurang pas, tetapi kemudian ”dikoreksi,” agar terdengar indah. Namanya juga latihan.

Begitulah, Rumah Tiup Tina Saxofon di Pasar Rebo itu memang selalu ramai pada sore hari sejak Jumat hingga Minggu. Itulah waktu berkumpul anggota komunitas untuk belajar dan mengenali seluk-beluk alat musik temuan Adolphe Sax itu. Adalah pasangan suami-istri Anton Prihardiyanto (54) dan Valentina Sri Yuniati (54) yang menggagas terbentuknya komunitas itu. Komunitas itu terbentuk dari ide Anton untuk mewadahi para penikmat yang ingin belajar meniup saksofon.

Hingga awal 2013 ini, setidaknya tercatat ada sekitar 1.900 anggota komunitas Rumah Tiup Tina Saxofon yang belajar alat musik itu dari Tina dan Anton. Mereka berasal dari berbagai kalangan: mahasiswa, tentara, polisi, pengusaha, dan karyawan. ”Bagi anggota komunitas yang berada di luar Jakarta, kami distribusikan materi lagu melalui internet,” ujar Tina.

Komunitas Rumah Tiup memiliki agenda rutin berkumpul pada Jumat, Sabtu, dan Minggu. Selain belajar, mereka juga berbagi kesulitan atau lagu baru.

Mimpi dan terwujud

Irwin Samudra (35), salah seorang anggota Rumah Tiup, dulu hanya bisa bermimpi untuk memiliki dan memainkan saksofon. Irwin, pekerja di perusahaan pelayaran itu, pada awalnya ragu untuk memiliki saksofon mengingat harganya yang di kisaran Rp 60 juta hingga Rp 100 juta. Keraguan Irwin itu sirna setelah tahu bahwa ada saksofon bekas bisa dibeli dengan harga Rp 7 juta. Dia mendapatkan saksofon berkelas, meski bekas, dengan merek Selmer Bundy II. Setelah memiliki saksofon, ia bergabung dengan komunitas Rumah Tiup sejak setahun lalu.

”Saya jatuh cinta pada suara rendah saksofon yang indah. Setiap kali mendengarkan lagu-lagu yang dimainkan menggunakan saksofon, hati rasanya bergetar,” ujar Irwin.

”Walaupun masih terus berlatih, waktu satu tahun sudah cukup untuk mendapatkan pengetahuan dasar bermain saksofon,” kata Irwin yang sudah berani

bermain di depan publik terbatas.

Kecintaan Dewanta terhadap saksofon juga tak bisa ditutup-tutupi lagi. Selain pada Selasa dan Sabtu yang padat pekerjaan, Dewanta bisa menghabiskan waktu belajar saksofon selama dua jam setiap hari. ”Saat ini, kalau ada pekerjaan yang bisa diselesaikan oleh orang-orang membantu saya, pekerjaan itu lebih sering saya serahkan kepada mereka. Saya lebih senang bermain saksofon,” ujar Dewanta sambil berkelakar.

Alat tiup itu mengambil hati Dewanta, terutama karena bentuknya yang unik dan cara memainkannya yang penuh gaya. ”Saya terinspirasi para pemain top saksofon. Setelah mempelajarinya, ternyata memang asyik, tidak terlalu sulit, dan membuat jatuh cinta,” kata Dewanta yang pernah belajar terompet selama dua tahun, tetapi akhirnya menyerah karena tidak juga mahir. 

Serba tiup

Komunitas Rumah Tiup tidak hanya mewadahi para penyuka saksofon. Komunitas ini mewadahi para penyuka alat tiup lain seperti trompet. Selain di Pasar Rebo, komunitas Rumah Tiup juga terbentuk di Cibubur dan Yogyakarta.

Di Cibubur, Didit (36) mendirikan d’Saxes Saxomunity Rumah Tiup Cibubur. Istri Didit, Lusia Diah Candra (34) juga pemain saksofon yang kemudian menjadi motor penggerak d’Saxes. Di Yogyakarta, Ardaseta Risma Yuda (32) juga membuat komunitas Rumah Tiup.

Anggota d’Saxes sudah mencapai sekitar 200 orang sejak komunitas itu didirikan pada 2010. Setiap Jumat malam, anggota komunitas berkumpul di markas d’Saxes dan bermain bersama dengan tema musik tertentu seperti yang sudah disepakati. Seperti pada Jumat malam lalu, komunitas itu memainkan lagu-lagu Batak dalam ajang yang disebut Batak Night.

Belajar saksofon, sebenarnya tidak sulit. Setidaknya, menurut Tina, ada tiga tahap untuk mempelajari saksofon. Pertama dan yang paling dasar adalah belajar membunyikan saksofon. Posisi dan ketepatan bibir di ujung alat tiup akan menentukan apakah saksofon bisa bunyi atau tidak. Tanpa itu, saksofon akan sulit berbunyi dan pelajaran selanjutnya akan sulit diteruskan.

Kedua, setelah saksofon bisa berbunyi, tahap yang harus dilalui adalah berlatih membidik nada atau solmisasi melalui pergerakan jari. Biasanya, pemula diajari solminasi pada nada dasar C, lalu beralih ke nada dasar lainnya. Dalam empat kali pertemuan, seorang pemula biasanya sudah bisa dengan lancar berpindah ke nada dasar di luar C. Ketiga, belajar beberapa lagu sederhana.

Selanjutnya nikmatilah hidup dengan saksofon.

Sumber

Puisi-puisi Abdul Hamid Nasution

Kopi Air Mata
Pagi ini kuseduh kopi air mata. Pilunya hati sesakkan mata.  Apa yang menjadi noda dalam diri hingga Tuhan menyembelih kasih dalam cinta. Aku tak pernah bermesra dengan dia. Apalagi satu celana.
Dalam hatiku hanya ada tanda tanya. Dia yang meninggalkanku semoga tak merana. Sebenarnya tak ada dosa. Hanya ada salah dan lupa. Kita tak perlu menadah dan berdoa. Biar Tuhan ampuni kita. Apa lagi hanya diam tanpa makna.
Kucoba meraba ikatan kita. Ikatan tanpa saudara. Melainkan ikatan menyambung cinta.
Aku yang punya kasih kini tinggal di pulau-pulau lupa. Lupa pada makna dosa. Dosa yang terasa di dada. Sebab cinta yang dituju bukanlah dia.
Masih pagi ini. Kumulai menjamah bara. Sebenarnya aku saja yang menyambung rasa. Tanpa sambutan dada.
Jadi aku tak boleh marah padamu yang berdusta dan meninggalkan kita beserta biji Nangka.

Rinduku Lesu di Dahan Rasau
Kenapa kita tak semesra dulu
Saat kau rangkul dengkul yang masih lugu
Waktu kau seperti burung yang  lesu di dahan rasau
Berkicau dalam salju kadang debu
Sekarang gigimu saja sudah dungu
Hatimu meraba jemu
Padaku, Rindumu tak bermutu
Lugumu merisau
Tak sampai jamku mengigau
Waktunya kutuai benih-benih galau
Yang sempat kau tanam dalam kalbu
Sebenarnya, apa yang kau maksud saat kita bergurau
Di sudut pilu

Jujur dalam Sepi

Palingan kau itu celingak cellinguk
Lihat aku yang gugup dalam degup
Karena tadi kau tersungkur dalam lebur yang gugur
Tambah lagi kau makan bubur yang uzur

Jadi, apakah kau merasa jujur ketika kata-katamu serasa guntur
Ah, aku rasa kau manusia setengan punah
Yang hidup dalam diam sejagad sumpah
Buktinya kau sudah lupa
Dengan janji yang terikat dengan pita

Besok-besok kau tak usah bangun lagi
Biar kau tak kusapa dalam janji sepi

Abdul Hamid  Nasution.  Kelahiran Angkola-Tapanuli Selatan 23 tahun lalu. Suka dunia jurnalistik dan sastra. Puisi-puisinya terbit di Riau Pos dan  Metro Riau. Puisinya juga tergabung dalam buku antologi puisi Sepotong Rindu dalam sarung. Ia mahasiswa Universitas Islam Riau. Aktif di Pers Mahasiswa AKLaMASI UIR.

Sumber

Teater Keliling Desa Pentas di Halaman Rumah

Komunitas teater Sego Gurih menggelar pementasan keliling bertajuk Purik selama dua bulan, Maret sampai April 2013. Dalam lakon yang naskahnya ditulis Wage Daksinarga itu, kelompok ini menghadirkan isu sosial ekonomi kalangan masyarakat bawah. ”Lakon kali ini cerita tentang sebuah bangunan keluarga kecil bahagia dan sejahtera, yang faktanya tak semudah iklan keluarga berencana di televisi,” kata pemain senior Sego Gurih, Elyandra Widharta, Rabu, 6 Maret 2013.

Praktek berkesenian kelompok ini sangat berbeda dengan kelompok teater arus besar. Kelompok teater yang berdiri pada 1998 ini memakai dialog dalam bahasa Jawa. Pentas dilakukan di ruang terbuka di kawasan pedesaan dan kampung pinggiran.

Pada pentas keliling ini, kelompok Sego Gurih tampil di tujuh tempat. Pada 1 Maret 2013, mereka tampil di kompleks Pasar Ngotho Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Pada 3 Maret 2013, mereka menggelar pentas di halaman rumah pelawak Yogyakarta, Yu Beruk, di Kampung Matrijeron, Yogyakarta. Sedangkan pada 5 Maret 2013, mereka tampil di Dusun Mbutuh Imogiri, Bantul, dan pada Kamis, 7 Maret 2013, mereka akan tampil di Kampung Kotagede. Sebagai penutup, pada 10 April 2013, pentas diselenggarakan di Padepokan Seni Wayang Ukur Mbah Kasman Mergangsan Tamansiswa.

Pertunjukan di halaman rumah seniman mengandung romantisme proses kreatif mereka dan hubungan dengan penonton yang merupakan warga setempat. “Penonton itu bagi kami masyarakat desa dan kampung,” katanya.

Seniman Sego Gurih kebanyakan alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta dari berbagai disiplin ilmu yang telah punya pekerjaan. Semua biaya penyelenggaraan ditanggung komunitas dan jaringannya, mulai dari konsumsi, pamflet, hingga sewa mobil pikap. ”Karena kami masuk desa-desa yang relatif sepi, praktis sulit untuk mengajak sponsor komersial masuk. Andalannya tetap jaringan,” kata Ely.

Sumber

Jumat, 08 Maret 2013

Padepokan Cak Nun Pentaskan Karya Anton Chekov

Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun akan menggelar uji peluncuran padepokan seninya Sanggar Kreativitas Manusia Yogyakarta yang terletak di Jalan Barokah nomor 287 Kadipiro, Bantul, Yogyakarta Jumat 8 Maret 2013.

Menurut juru bicara padepokan, Eko Nuryono, pada acara itu akan digelar pentas drama komedi  satu babak berjudul "Orang Kasar" karya Anton Chekov yang disadur almarhum WS Rendra. ”Ini masih sebagai pemanasan sebelum di-launching,” kata Eko Kamis 7 Maret 2013.

Pentas lakon teater di padepokan Cak Nun itu diisi komunitas dari Sanggar Kemanusiaan (Sarem) Yogyakarta. Lakon `Orang Kasar` berkisah tentang dua orang, seorang janda dan penagih hutang, yang saling berlaku kasar dalam tindakan maupun kata-kata. Tapi pada akhirnya keduanya jatuh cinta.

Janda itu, Nyonya Martopo, terus berkabung atas kematian suaminya, untuk membuktikan dia tetap setia, meski dia tahu sang suami mengkhianatinya. Celakanya, sang suami juga mewariskan hutang. Hidup sang janda terusik dengan kedatangan penagih hutang, Baitul Bilal. Nyonya Martopo menolak membayar hutang suaminya. Terjadilah adegan histeris, humoris, dan akhirnya romantis.

Sebelumnya Emha mengutarakan keinginannya untuk menjadikan kediamannya menjadi wadah interaksi para pelaku seni dan budaya. “Yang penting ada kegiatan seni dan budaya yang bisa terus berinteraksi di sini,” katanya. Menurut dia, keberadaan ruang seni di Yogyakarta perlu tumbuh lebuh meyebar dan masuk ke berbagai pelosok kampung sehingga mampu lebih dekat dengan warga.<

Sumber

Gotong Royong

Gotong Royong merupakan suatu kegiatan sosial yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dari jaman daulu kala hingga saat ini. Rasa kebersamaan ini muncul, karena adanya sikap sosial tanpa pamrih dari masing-masing individu untuk meringankan beban yang sedang dipikul.

Hanya di Indonesia,kita bisa menemukan sikap gotong royong ini karena di negara lain tidak ada sikap ini dikarenakan saling acuh tak acuh terhadap lingkungan di sekitarnya. Ini merupakan sikap positif yang harus di lestarikan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kokoh & kuat di segala lini.

Tidak hanya dipedesaan bisa kita jumpai sikap gotong royong,melainkan di daerah perkotaan pun bisa kita jumpai dengan mudah. Karena secara budaya, memang sudah di tanamkan sifat ini sejak kecil hingga dewasa.

Karena ini merupakan salah satu cermin yang membuat Indonesia bersatu dari sabang hingga merauke,walaupun berbeda agama,suku & warna kulit tapi kita tetap menjadi kesatuan yang kokoh.Inilah alah satu budaya bangsa yang membuat Indonesia,di puja & puji oleh bangsa lain karena budayanya yang unik & penuh toleransi antar sesame manusia.

Puisi-puisi Adi Nugroho

Kau dan Aku

Pada mulanya kita diam, tak saling kenal.
Lalu ada cakap, mengalir menjalin cerita, lalu berpisah.
Bukan berakhir, tapi menyiapkan sesuatu

Pernah Aku

Aku pernah mencintaimu, mencintaimu dengan banyak hal yang tak pernah aku mengerti. Penyairku bilang, cintaku padamu sebenarnya hanyalah cinta yang sederhana, yang diibaratkannya dengan kata, ya sesederhana kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Namun, sayangku, saat itu aku, mungkin juga kini dan nanti, tak berani bermain api, sesederhana apapun hangat dan terangnya. Aku lebih memilih mencintaimu tidak dengan sederhana. Dengan halhal yang lagi aku tak pahami, yang kucaricari pada naskah tak bertirah, juga pada kertaskertas puisi penyiar tua. Gerangan apa yang mampu menggambarkan itu? Wajah yang mendadak menyungai, juga dada yang seketika bertabuh, dan sukma yang mengalir hangat di tegalan jiwaku, tak pernah utarakan maksudnya. tapi aku pernah mencintaimu, dengan kata yang tak pernah diutarakan bahasa. Dan mencintai tidak sederhana, Itu sebabnya Aku terkadang ragu mencintaimu?
 
Dari pernahnya aku mencintaimu, pernah aku menjadikanmu mata air puisi. Kupilahpilah kata dari banyaknya kamus sediakan makna. Berjuta lema kujelajahi, agar tercipta kata, tersusun frasa, melahirkan kita, Kuingin ada sebuah puisi, yang singkat saja, yang kau dan aku, juga Tuhan bisa membacanya. Dalam puisi itu, tak ingin aku menutupi rasa, dan munculah tanya: kepada siapa puisi itu ditujukan. Maka kata “kamu” menjadi pilihan. Kerna tak ingin aku mengibaratkanmu pada lain, sungguh merepotkan itu nanti. Puisi ini hanya sekali dan tak akan pernah tercipta lagi dengan banyaknya perumpamaan. Kupilih kata ”kamu” dalam jenjang puisiku. Dengan tegas serta lugas berpikir waras, kuciptakan puisi memang untukmu. Dan tentulah ini perkara kita, perkara cinta. Soalsoal yang menggerakkan jiwa tanpa paksa, bekerja tak kenal senja, melangkah tanpa lelah. Ya, kerja adalah aktivasiku pada masa lalu, dan harapan masa depan. Cinta adalah perkara mencintai. Maka kupilih “mencintai” sebagai langkahku menuju pusaramu. maka pernah kucipta puisi untukmu yang singkat, pada hampar kertas kutulis: “mencintai itu kamu”. Semoga Tuhan mengerti. Dan sewaktuwaktu aku atau kau pergi, aku hanya mengenal cinta sebatas kamu.

Belum Waktu
Mungkin sebab itu, kau memilih pergi. Menepi pada ujung paling sepi sebuah negeri. Tak ada hujan, tak ada harapan, apalagi kerinduan. Lantaran hidup ini hutan belantara yang rimbarimbun. Kaulepaskan talitali yang lama terhubung pada banyak perasaan. Hanya karena seringkali kau takut kembali, dan harihari seperti huruhara bising kota. Andaikata langit tak bertuhan, mungkin sudah kau sekap kehadirannya. Seolah resonansi yang merambat hatimu membawa jatuhripuh. Namun, tentu saja langit berawan itu akan menangis, menangis sepuasnya melihat kita tak berkata.
 
Seharusnya memang tak perlu menjadi kita. Saat kita belum siap menerima cuaca tak terduga. Bulan atau bahkan tahun bergulir pun seakan percuma. Kegamangan menjaga cinta adalah hampa. Ketika menyadari seluruh reaksinya menggasak sukma. Seperti kebanyakan pemabuk, kita pun akan mabuk pada yang tak nyata. Tak mengerti seakan syahdunya melihat pohonpohon meranggas. Betapa kau dan aku menari merapatkan jemari. Juga wajah menyungai sendiri, mendengar langkah dedaun yang bernyanyi. Seakan kau tubuhku dan kau rohku. Lagu singkat dari hempas angin bersimpuh rebah pada merahtanah. Semua seakan dimengerti tanpa berlamalama.
 
Tak seharusnya, sungguhpeluh pernah terbangun tubuh bernama kita. Bahkan ketika, hujan didahului pelangi. Lembahlembah randahpindah ke gunung. bergeming adalah harusnya, yang ringkuk dari liukmu. Dan dasarnya kita masih lemah, tak sanggup melepas ketas tunas melati seakarpun.
 
Dan sebab itu, kau melarangku. Menyebut namamu pada diamku. Sebab diam adalah keabadian tak bernama. Dalam kamar sepi kita kikuk, takluk pada sembilu masa lalu.
 
Pada pilihan lepas, kau pergi, aku menepi, kita sepi. Selanjutnya, Aku memilih mencintaimu dalam diam. Sebab suaramu begitu merdu nan syahdu. Tak patut aku mengganggu. Pada sapuan angin ingin, aku memilihmu dalam diam. Sebab belai tubuhmu begitu malu. Belum waktu aku memelukmu
Mungkin diam, sebab itu, kita berhenti. Kau dan aku dimiliki kita yang lain. Terkecuali Tuhan membebas waktu.

Kepada Kamu
Aku memilih luka
Sebelum banyak cerita,
Namun, akhirnya tak bersama

------

Adi Nugroho saat ini sedang bercinta dengan hujan. Bergumul di komunitas Langit Sastra. Juga pendiri sekaligus Dewan Syuro pecinta alam AADT. Buku pertamanya berupa kumpulan esai Belajar Merawat Indonesia. Boleh bersapa di @ijonkmuhammad dan ijonkmuhammad.tumblr.com

Sumber

Kamis, 07 Maret 2013

Togarma Naibaho, Musik Batak di Perantauan

Belasan tahun Togarma Naibaho (62) memodifikasi dan mengembangkan alat-alat musik tradisional Batak. Dia bermimpi keindahan alat-alat musik dari tepian Danau Toba itu kekal di perantauan dan kampung halaman.

Suatu siang di rumah makan Toba Tabo (artinya ’Toba enak’), terdengar lengkingan jernih alat musik tiup talatoit. Rambatan suara lirihnya membangkitkan perasaan ngelangut.
Jika si peniup talatoit ingin mengirim lagu rindu, yang dikirimi pastilah meleleh hatinya. Kali ini si peniup suling, Togarma, ingin menggambarkan daya dan emosi alat musik itu.

”Suling ini sempat dilarang Belanda karena dituduh membuat gila anak gadis di kampung,” ujar Togarma tentang talatoit.

Alat musik dari bambu pendek dengan dua lubang di sisi kiri dan kanan itu dimainkan dengan meniup dari samping. Talatoit merupakan salah satu alat musik Batak yang ingin dibangkitkan Togarma.

”Alat musik ini di kampung saja sudah jarang dimainkan,” ujar Togarma yang membuat sendiri talatoit itu.

Nasib serupa membayangi instrumen garantung, ogung, odap, sulim, dan taganing yang menjadi bagian perangkat gondang atau ensambel musik khas Batak. Ada masanya ketika alat musik Batak yang dulu sering digunakan mengiringi upacara atau ritual tradisi Batak itu dijauhi karena kekhawatiran terkait dengan penyembahan berhala.

Padahal, alat-alat musik itu, menurut Togarma, pada dasarnya netral. Alat musik dapat pula menjadi pengantar doa memuliakan Tuhan.

Modifikasi instrumen

Togarma mempelajari filosofi, nada, dan bentuk fisik alat-alat musik Batak. Pada 2002, dia memodifikasi alat-alat itu, tetapi tetap mempertahankan ciri khas bunyi dan nadanya. Alat musik ogung (mirip gong) yang semula memiliki empat nada dimodifikasi menjadi 12 nada tanpa menghilangkan empat nada awal.

Setahun kemudian, tercipta taganing yang semula 7 nada menjadi 16 nada. Taganing, yang berupa sebaris alat musik pukul mirip kendang, dibuatnya menjadi tiga baris kendang. Berlanjut dengan hasapi, alat musik petik yang semula 2 senar dia jadikan 4 senar dilengkapi grip.

Garantung, yang mirip kolintang, aslinya 8 nada dikembangkan hingga 25 nada. Rentang nada yang hingga 2 oktaf kromatis membuat cakupan nada mirip piano. Lahir pula sulim (suling) 12 nada. Perubahan itu menambah kekayaan dan keluasan nada pada alat musik tradisi sehingga ruang berkreasi membesar.

Sebagian alat musik perkusi yang telah diutak-atik Togarma itu tak sekadar pembawa ritme, tetapi juga sanggup mengirim melodi. Alhasil, gondang Batak modifikasi itu mampu menjadi pengiring lagu, seperti halnya band.

”Saya membuat sulim, ogung, taganing, dan garantung diatonik agar dapat mengiringi lagu nada diatonis sehingga bisa bergabung dengan semua nada musik dunia,” ujarnya.

Riset untuk memodifikasi instrumen itu membutuhkan biaya, waktu, dan tenaga karena dia harus bolak-balik memperbaiki kegagalan dari berbagai sudut, seperti bunyi dan kepraktisan memainkan alat. Istri Togarma, Ida br Pangaribuan, seorang penari dan koreografer tortor, cukup bersabar. Dana keluarga sebagian tersedot untuk pengembangan instrumen musik itu.

”Saya tak memikirkan rumah atau kendaraan. Saya hanya ingin alat musik Batak tidak punah. Kalau nadanya makin kaya, harapannya makin sering dipakai orang sebagai musik pengiring lagu,” ujar Togarma yang masih mengontrak rumah di Jakarta dan ke mana-mana pergi dengan kendaraan umum itu.

”Saya gelisah kalau alat musik Batak tidak diselamatkan, nanti orang Batak akan kecurian. Sekarang saja sudah ada orang Batak yang merasa kehilangan musik tradisinya,” ujarnya.

Komunitas

Togarma dan kawan-kawan berinisiatif mempersatukan pelaku seni musik Batak dengan membentuk Komunitas Senang Seni Batak Toba.

Komunitas ini kemudian berubah menjadi Komunitas Senang Seni Batak (Kossba) agar puak Batak lain, seperti Karo, Pakpak/Dairi Mandailing, Angkola, dan Simalungun, dapat terlibat melestarikan budaya Batak.

Togarma didaulat menjadi pemimpin Kossba yang berdiri awal 2012. Anggota Kossba berlatih di rumah pengusaha Monang Sianipar yang juga pemilik Toba Tabo. ”Kami rutin berlatih dan tampil di sejumlah acara Batak,” ujarnya.

Togarma tak pernah melupakan persinggungannya dengan musik tradisi Batak. Ketika tumbuh besar di huta alias kampung, ia paling menantikan acara menonton Opera Sitilhang di sebuah lapangan segitiga dekat rumahnya.

Opera Sitilhang biasanya berlangsung selama sebulan dan grup seniman mengontrak di rumah toko milik keluarga Togarma.

Walaupun banyak jenis suara alat musik mampir ke telinganya, gondang dan uning-uningan yang paling meresap dalam kalbunya. Alat musik tradisi itu mendapatkan napasnya dalam ritual dan hiburan rakyat.

Agar alat musik itu lestari, ungkap Togarma, harus dikembangkan sebagai hiburan, tak hanya pengiring ritual. Ia menyimpan obsesi akan hidupnya orkestra gondang Batak di perantauan ataupun di tanah Batak. Dia yakin orkestra bernuansa etnik yang unik dapat tampil sejajar dengan orkestra ala Eropa.

Seni tepian Toba

Selain musik, Togarma juga mempelajari berbagai aspek budaya Batak selama 28 tahun. Awalnya, dia ingin mengembangkan skripsinya tentang rumah adat Batak menjadi buku. Dalam perjalanan menyusun buku itu, ia mendalami berbagai aspek budaya Batak.

”Pengetahuan tentang alat musik tersebut saya dapat saat mendalami arsitektur rumah Batak. Arsitektur rumah adat dan seni budaya saling terkait,” katanya.

”Begitu dalamnya misteri orang Batak sehingga tak habis-habis digali. Saya tak pernah puas sampai akhirnya berpuluh tahun meriset untuk naskah buku itu,” ujarnya.

Kini, sudah 234 halaman ditulisnya. Togarma ingin menuntaskan naskah buku itu tahun ini. Tulisan dia berjudul Metodologi Riset Seni Rupa dan Desain justru lebih dulu terbit.

Di Jakarta, ia membangun Sanggar Gorga. Ia membuat desain dan ukiran kayu bermotif Batak untuk panel interior. Ia membuat desain motif Batak untuk kaca hingga pakaian dan dekorasi perkawinan. Salah satu karyanya, berupa panel hiasan ukiran Batak, memperindah Gereja HKBP Sudirman.

Dari tanah perantauan Jakarta, Togarma ingin mewariskan jejak budaya Batak sebagai bagian dari pembentuk Indonesia bagi generasi berikutnya. ”Itu mimpi saya,” ujarnya.

Sumber

Puisi-puisi Sabiq Carebesth

# Asmaradana

Duduk sendiri dalam etalase waktu yang memajang tubuh mati, senyuman tanpa rona; seperti hujan di terik sewaktu burung gereja kehilangan daun yang menyembunyikan serangga; seperti masa lalu menelan seluruh kotamu dalam kenangan.

Jalan-jalan kembali asing bersama mendung yang menggenapi petang yang begitu sia-sia menjadi pemanis malam sebelum kelam sungguh-sungguh membentangkan masa lalu di atas ranjang; telanjang bulat menjadi waktu di jam dinding berwarna kelabu, namun pada matamu tetap saja rahasia paling sunyi yang dikandung lautan biru tak kunjung tergenapi; kepada yang dirindu tak pernah sanggup kehilanganmu mencumbu.

Inilah tangisanku yang tak mungkin kau pahami, lirih jeritnya hanya sepetik tali harpa dalam sebuah pesta pora tentang lupa dari masalalu yang terlalu  pilu untuk dikenang sebagai keberlaluan waktu oleh sejumput hujan yang menepikan namamu di atas pasir dalam pantai jiwaku dimana ribuan kuda pacu tengah menderu menuju kesendirian; menempuhi suara yang membimbing bunyi kepada kedalaman dari ketidaksanggupanmu menyembunyikan cinta.

Itu lah waktu dan ruang bagiku, dan bagimu, kekasihku; dan aku membuat ribuan jendela, aku membukanya beribu kali berkali-kali tapi tak pernah kutemukan kota dengan bus kota, jembatan panjang, gedung-gedung tua dengan burung-burung yang meulikaskan masalalu menjadi lebih sempurna dari kesakitannya; dan lorong-lorong sunyi dari kali-kali mati di pinggir jalan tanpa lampu malam di mana dulu kita pernah berjanji berkali-kali untuk saling bertemu, kembali.
Aku membuat lagi jendela dari pengapnya ruang yang memenjarakanku tanpa waktu dari detik dan dentangan jam; waktu yang kerap menjadi kecil bagi masa depan yang angkuh bagi waktu yang meresmikan diri menjadi masalalu; dan kubuka jendela, ah tapi semua kembali hampa; tak ada kota yang sama seperti kota milik kita waktu itu, tak ada senja seperti senja yang waktu itu, sayangku; sewaktu kau mengucup bibirku dengan air mata terakhir yang bisa kusingkap sebelum akhirnya kalbuku menggigil, kembali di dekap sunyi, kembali tak mengerti

2013

# Selamat Malam

Waktu yang merenggutmu dari takdirku adalah puisi paling sunyi yang digariskan di atas kanvas sebagai lukisan surgawi yang maha ngeri. Tujuh puluh ribu kehilangan yang kutempuhi menjadi rindu tanpa penghabisan; menjelma kutukan bumi dari nyanyian waktu yang menyuguhkan kepedihan yang kau kira lukanya disebabkan persetubuhan paling kelam malam itu; senggama dari ribuan nafsu dalam gejolak paling pasang dari gelombang jiwa yang nganga disapu rasa hampa yang ingin digenapi janji persekutuan abadi tanpa dinding dan puisi. Persetubuhan asamara kita malam itu meniti tiap jengkal dari tebing samudara yang menggelegar di antara leher dan dagumu. Malam kini samudera itu masih kah ada? Selamat malam, tapi apakah ini malam?

2013

# Malam di Mata Lembutmu
Malam yang sekarang bukan malam yang kemarin, tapi malam memanglah malam pada malamnya yang kelam; dihujam-hujamnya segala yang tajam kedalam dirinya seperti sebuah ritual kehampaan, malam yang muram bagi jiwa yang menyunggingkan hasrat kebebasan.
Tumpah ruah pada malam kini, kesepian pada tempatnya sendiri, sesunyi-sunyinya, disandarkan kepada hening yang nyaris tak dapat dikenangnya.

O, kemana ramai lampu kota dan canda kepiluan dari cinta yang ditaruh dibibir nasib, pada malam kini tak ada yang mencari malam. Malam pada malamnya sendiri, berjajar seperti barisan waktu yang berdetak lirih-lirih pamit berlalu.

Bahasa tiba-tiba menjadi berat, bobotnya seperti mendung luluh lantahkan bunyi dari setiap kidung yang dibunyikan dengan bahasa yang berat seperti suara jazz yang tak pernh ingin berhenti dalam jeda-jeda yang mematah-matahkan rasa menjadi gelombang rasa yang aduhai berat serupa tubuh telanjang di etalase toko yang memajang kenangan ketaktergapaian, duh aduhai... pada tangismu yang tak bisa kudengar lah bahasa kerap kali kurebahkan; tapi apa kau tahu?

Sebuah tatapan menyelinap, kupandang jelas pada bola mata yang terpelanting dalam kolam jiwa yang maha meragu, pandanganmu yang biasanya, tatapan mata lembutmu...

2013

#  Sunyi
Tak ada kelambu rindu bagi dingin di malam kelabu; sejengkal jarak dari jiwa yang mengamuk meluluhlantahkan setiap gejolak; mengubahnya menjadi diam yang melesatkan segala gerak. Cinta menjelma onggokan bisu dari karang dada yang menyesak; kapankah ia berganti rupa? jadi deburan ombak yang menggelombangkan hasrat rindu agar terpecah sunyi.

Aku menelan sendiri ribuan tanya yang pada wajah lelapmu berganti menjadi rahasia paling purba di mana gelap dan cahaya dipersatukan oleh kegamanganmu. Cinta yang dulu hamparan kebebasan menjelma bulir dari tiap keterasinganmu; Aku jadi senyap jadi sebutir awan jadi sungai yang mengalirkan air ke jauh, tak pernah tahu perahu kertasmu di hilir yang mana, lalu malam berakhir dengan segala kebisuan; bagai air surut dari kali jiwa setelah gemuruhnya hempas.

2013

# Asmara Tanpa Senggama
Di kota tanpa nama, apa aku tersesat di antara ribuan kehilangan-kehilangan yang tak bernama; tak ada duka lara cinta dan hampa tak ada; yang ada tak ada memang demikian engkau dan aku ada di tengah kota tanpa senja tanpa sungai tiada air tanpa kebanaran dan kesalahan kecuali semua benar kecuali semua salah; hanya ada aku hanya ada engkau, tak bisa sembunyi sebab dinding-dinding telah berganti gambar-gambar tanpa kata, tanpa angin dan jelaga makna menyisakan satu cahya mengukir nama yang bukan aku menamai kecuali engkau menyebut namamu sendiri; aku gemataran seperti sekujur nyawaku ditali oleh namamu, jangan mengagetkanku, aku gemetaran;gemataran-gemetaran; dingin membekukan, apa aku gila? Rangkullah aku hingga hilang seluruh, ya memang aku milikmu, kamu, hilang bentuk kembali menjadi kamu; ya memang padamu lah aku berkisah dan menyembah dengan asmara tanpa senggama; dengan rindu tanpa tanya, ya padamu lah aku ingin di ambil dalam kemabukan yang memurnikan kenekatan kesadaranku keharibanMu.

2013

#Bukankah itu malam yang kemarin?

Bukankah itu malam yang kemarin? Seperti rasa didekap gelombang, menunggu pasang diwaktu subuh nanti menjelang; apa kita kan bertahan?
Kita yang terlalu dini menjadi sepi sebelum sempat menempuh sunyi. Hai lihat, bukankah itu malam yang kemarin? Sewaktu cahya redup dijendela, dan redup pula rasa di sekujur jiwa, ah...

Januari 2013

# Sebuah Pemakaman Bahasa Di Atas Kasur

Tiba-tiba bahasa berubah rupa menjadi panti jompo, aku seperti kursi roda yang menunggu kerapuhanmu tersebab luka dari rindu kalbumu yang menua. Seeokor kucing diam di depan pintu, aku lalu kehilangan laguku dalam sekali tatapannya. Rupanya dicurinya dariku sebuah darah daging bahasa yang sejak lama kutimang dilemari tua dari jiwaku yang ingin memacu laju dipunggung waktu di antara sungai-sungai di punggungmu.

Aku tahu pada kalbumu masih rindu pada malam sewaktu kita biasa duduk di depan pintu, seperti kucing di depan pintuku, dan kau berada jauh di dalam matanya.

Maka pada jendela kamar yang bukan angin pada dinding berlumut ketabahan seperti ketika bibirmu dahulu kukucup dengan ragu dan seketika aku berada digerbang kalbumu yang menyeruakan aromo kepiluan paling dalam dari bahasa yang urung terlafadzkan menjadi air mata di kelopak matamu yang landai seperti kepiluan di tebing keheningan dimana dahulu di jendela kamarku senyummu tertinggal di kaca jendela sebelum jatuh dalam segelas kopiku dimana seoarang gila terbenam dalam iramanya tari-tarian kegilaan dari suara kalbu yang tertahan dalam kelam ngilu dari bahasa yang kehilangan cahaya dimatamu; barangkali dicuri seekor kucing yang menyembunyikan rindumu dibalik matanya.

"seandainya aku bisa menjadi lampu kota di tengah harimu yang sudah jadi malam."
Aduhai alangkahnya malam ketika kutemukan sebuah pemakaman di atas kasur tidurku dengan nisan yang diukir dengan tarian paling ria pada pualam punggungmu dimana masih lagi bisa kusesapi wangi aroma kembang kertas dari tumpukan bahasa yang tak terbaca. Disitu dulu cinta dimakamkan, telah lama seoarang yang gemar dengan hujan bulan September tak datang menziarahi; barangkali puisi lupa menunjukan padanya jalan kembali.
ah, hari sudah jadi malam rupanya, kukucup keningmu dikaca jendela kamarku. Tapi di luar hujan pelan-pelan mencuri bibirmu dariku. Selamat jalan...

Jakarta, 2 Desember 2012

Sabiq Carebesth is the author of “Memoar Kehilangan” (2011) Kini tinggal dan bekerja di Jakarta. Twitter: @sabiqcarebesth

Sumber

Lesung, Maknamu yang Berlalu

Oleh PURNAWAN ANDRA

Dunia pertanian Nusantara mengenal sebuah alat bernama lesung atau lumping. Semacam alat tradisional yang dapat mengubah gabah menjadi beras. Alat dari kayu ini berbentuk seperti perahu kecil dengan panjang sekitar 2 meter, lebar 0,5 meter, dan kedalaman sekitar 40 sentimeter. Di dalam lesung ini kulit gabah (sekam, merang) dipisahkan dengan cara ditumbuk alu, tongkat kayu yang tumpul, sehingga muncullah beras.

Lesung tak hanya sebuah alat. Ia juga sebuah realitas antropologis. Umumnya rakyat Indonesia, lebih khusus orang Jawa, tidak bisa memisahkan hidupnya dari padi yang menghasilkan beras dan nasi, sebagai makanan pokok.

Padi dianggap pengejawantahan dari bagian tubuh Dewi Sri (Dewi Kesuburan) yang memiliki banyak kegunaan. Mulai dari kulit luar padi (sekam), kulit yang agak kasar (dedak), kulit ari (bekatul), butir inti (beras), tangkai padi (merang), batang tanaman padi (damen/jerami) semuanya dapat dimanfaatkan.

Pada masanya, di desa-desa di Jawa, setiap subuh selalu terdengar bunyi bertumbuknya ujung alu dengan lesung. Para ibu tengah menumbuk padi, menyiapkan makanan bagi keluarganya. Kegiatan inilah yang dalam mitologi Jawa membuat Roro Jonggrang terselamatkan dari anaknya sendiri, Bandung Bondowoso, yang bernafsu hendak menjadikannya sebagai istri.

Berkat pukulan lesung dan alu yang menandakan hari sudah pagi, ayam pun berkokok. Apalagi tumpukan jerami dibakar sehingga hari seolah sudah pagi. Usaha Bandung pun gagal memperistri ibunya sendiri.

Lingga ”yoni”

Lebih dari makna mitologis, lesung juga menjadi penanda pergumulan identitas dan spiritualitas, termasuk relasi antara menguasai dan dikuasai. Bentuknya yang menyerupai mangkok atau cawan panjang, lesung adalah simbol dari yoni, yang sampai hari ini dipahami mewakili kelamin perempuan.

Bersama alu, tongkat tumpul pasangannya, keduanya menggambarkan sebuah relasi harmonis antara lelaki dan perempuan, jantan dan betina. Keduanya menjadi pasangan yang menjadi inti dari masyarakat.

Dalam pemahaman kontinental atau daratan, meminjam istilah Radhar Panca Dahana, simbol natural ini kemudian dipahami secara rasional sebagai mekanisme relasi yang dominatif, di mana posisi lelaki dominan dan perempuan sub-ordinatif. Posisi alu yang di atas dan memukul-mukul lesung menjadi semacam alegori dari sistem dominatif maskulin itu.

Ritme yang tercipta dalam tumbukan alu-lesung adalah buah kesepakatan jiwa para penumbuknya, juga kesepakatan jiwa antara manusia dan alamnya. Ia menjadi musik tersendiri, yang menggembirakan. Yang menciptakan integrasi antara kegiatan ekonomi, sosial, kultural, bahkan spiritual.

Maka, betapa indah, nyaman, tenteramnya hati, saat ”tumbuk alu dan lesung” masih terjadi. Para penumbuk padi berbincang, bersenda gurau, dan berbagi cerita. Kerukunan dan kedekatan emosional pun membuat suasana pedesaan menjadi hangat dan harmonis.

Zaman berganti

Pergantian zaman tak bisa dielak. Industri dan rasionalisme tiba di negeri bahari ini, dengan berbagai cara: keras, kejam, memaksa, mendesak bahkan mematikan. Meminjam logika Dahana (2012), industrialisme dan rasionalisme merambah hingga wilayah-wilayah yang tidak hanya geografis, ekonomis, politis, tapi juga kultural.

Aksi kontinental yang koersif dan represif ini cukup berhasil membuat negeri harmonis dan tenteram ini, melupakan jati dirinya. Bahkan memaksa diri, suku bangsa dan bangsa, memeluk peradaban baru.

Di kala itulah, alat-alat tradisional bahari pun mengalami gerusan bentuk dan reduksi nilai, bahkan banyak di antaranya yang punah. Termasuk lesung dan alunya. Teknologi pertanian modern mendesak petani untuk menggunakan mesin, mulai dari membajak sawah hingga menggiling padi dan memproduksi beras.

Konon, teknologi itu murah, efisien, dan mudah. Mungkin. Tapi teknologi tidak menciptakan musik, kehangatan, senda gurau, dari harmoni kehidupan (sosial) yang ribuan tahun dibina bangsa Nusantara. Musik berganti polusi. Sawah-sawah terjual ke pemodal. Harga dikendalikan tengkulak. Petani termarjinalkan.

Alu dan lesung kini teronggok, sepi, lapuk dan rapuk, dan lesung pun menjadi keranda dari alunya. Sebagaimana adab dan adat suku-suku bangsa Nusantara menderita selama lebih seratus tahun belakangan ini. Adakah kita menceritakan kisah zaman ini pada anak cucu kita? Supaya mereka tahu bahwa kitalah termasuk penyebabnya?

Sumber

Tri Broto Wibisono Melestarikan Tari dan Tembang Dolanan

Sekitar sepekan terakhir ini Tri Broto Wibisono sibuk merampungkan tembang dolanan anak-anak yang dia garap ulang dengan sentuhan gamelan agar lebih menarik bagi anak-anak. Dia bertekad menggarap ulang tembang dolanan karena prihatin dengan langkanya anak-anak ataupun guru kesenian di sekolah yang mengenal tembang dolanan.

Padahal, bagi seniman tari kelahiran Surabaya ini, tembang dolanan tak sekadar nyanyian, tetapi di dalamnya terkandung pula nilai-nilai keluhuran budi pekerti dan kejujuran. ”Kini jarang sekali tembang dolanan didendangkan di sekolah, juga di sanggar seni tari,” ungkap Tri (58).

Oleh karena itulah dia bertekad menggarap ulang tembang dolanan anak-anak untuk sanggar tari Bina Tari Jawa Timur. Tri adalah salah seorang pendiri sanggar Bina Tari Jawa Timur pada 1977. Sejak itu, dia bisa dikatakan total berkesenian.

”Bersama sahabat saya Harimudji Wahjono, kami mendirikan Bina Tari Jawa Timur. Waktu itu masyarakat Jawa Timur, terutama di perkotaan, awam dengan tari jawa timuran. Tari itu hanya dikenal di daerah asalnya. Misalnya, tarian Madura terasa asing bagi warga di perkotaan, seperti Surabaya,” katanya.

Kelahiran sanggar Bina Tari Jawa Timur yang bertahan hingga kini di Surabaya memang tak lepas dari kegelisahan Tri sejak dia belajar seni tari di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surabaya.

Meski belajar di sekolah seni, ia merasa tak mendapat cukup banyak materi pelajaran tentang tari-tarian jawa timuran, kecuali tari remo dan jejer gandrung banyuwangi.

”Kala itu belum ada upaya kita untuk mengangkat dan menggarap tarian jawa timuran secara total. Bahkan, SMKI saja hanya mengajarkan tari remo dan gandrung banyuwangi karena yang dominan saat itu adalah tarian gaya Surakarta, tari Sunda, dan tari Bali,” kata Tri.

Kegelisahan dan keprihatinan atas kurangnya perhatian terhadap tari jawa timuran itulah yang mendorong Tri, alumnus SMKI Surabaya tahun 1975, mendirikan sanggar tari. ”Nama sanggar Bina Tari Jawa Timur dipilih agar tarian jawa timuran bisa dekat dengan masyarakat di mana pun,” katanya.

Melalui pendekatan pemadatan dan garapan baru tari tradisi khas jawa timuran, Tri mengajari anak didiknya di sanggar. Pada awal berdirinya sanggar, hanya lima siswa usia remaja yang berlatih. Seiring berjalannya waktu, siswa sanggar pun bertambah dari anak-anak sampai mahasiswa.

Tahun 2000-an, anak didik sanggar mencapai 150 orang. Namun, kini jumlah siswanya menurun, 90-100 orang dan sebagian besar usia TK dan SD. ”Dulu, iuran di sanggar sekitar Rp 3.000 per bulan, sekarang Rp 30.000. Itu pun relatif masih murah,” ujarnya.

Pegawai negeri

Kesenimanan Tri, suami dari Titik Budi Rahayu, ini diasah sejak 1973. Dia melakukan pendalaman, pengamatan, pengkajian, serta pelatihan seni tari dan karawitan di sejumlah pusat kesenian tradisi di Jawa Timur, seperti di Surabaya, Malang, Banyuwangi, dan Madura.

”Sebelum belajar tari topeng malangan, saya perlu mengamati tarian itu selama setahun di pusat kesenian tari topeng di Malang. Anak muda sekarang umumnya sudah puas hanya bisa menari topeng, tanpa pendalaman,” katanya.

Konsistensi Tri mendalami, mengembangkan, dan melestarikan tarian jawa timuran sejak 1970-an hingga kini membuat dia dikenal berbagai kalangan. Kiprahnya sebagai guru dan pelatih tari anak-anak telah membuahkan hasil. Berkat ketelatenan dan kesabarannya, telah lahir guru dan pelatih tari yang tersebar di berbagai sanggar dan sekolah, khususnya di Surabaya.

”Arif Rofiq dan Agustinus Harianto (keduanya seniman tari ternama Surabaya) pernah belajar tari di sanggar Bina Tari Jawa Timur,” kata Tri menyebut dua di antara sekitar 500 orang yang pernah belajar di sanggarnya.

Selain berkecimpung di dunia tari, sehari-hari Tri bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jatim dan pensiun pada 2011. Sebagai PNS, ia, antara lain, pernah bertugas sebagai Kepala Seksi Tari dan Teater Dinas Pendidikan Kota Surabaya (2002-2005) serta Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Hiburan Rakyat Surabaya (2007-2010).

Selalu ketua

Meski telah pensiun, penerima penghargaan sebagai Seniman Tradisi dari Gubernur Jatim pada 2006 ini bertekad melestarikan tarian jawa timuran sampai ajal menjemputnya.

”Sejak awal berdirinya sanggar Bina Tari Jawa Timur, saya selalu diminta menjadi ketuanya. Sebetulnya saya ingin ada teman lain yang menjadi ketua biar mereka punya pengalaman dalam mengelola sanggar tari. Kalau saya nanti meninggal, ada gantinya,” tutur Tri yang tak ingin sanggar Bina Tari Jawa Timur identik dengan dirinya.

Kendati imbalan honor sebagai guru/pelatih di sanggar Bina Tari Jawa Timur tak lebih dari Rp 175.000 per orang per bulan, sekitar 10 guru di sanggar ini tetap membagi ilmunya dengan sepenuh hati.

”Sanggar tari memang bukan tempat merengkuh kekayaan. Itulah mengapa saya bangga pada tim kerja sanggar ini. Bahkan, mereka pun rela sebagian honornya diambil untuk biaya produksi karya tari,” ujar Tri.

Meski begitu, ia merasa prihatin dengan semakin sulitnya melakukan regenerasi seniman, guru ataupun pelatih tari tradisional. Apalagi penari yang ada pun banyak yang tak mau mengembangkan kreativitas seninya. Ia khawatir suatu hari nanti tari jawa timuran akan lenyap.

”Tari jawa timuran sudah dikenal luas, tetapi bagaimana nanti kalau tak ada yang mau melestarikan?” ujar Tri yang menjadi sutradara dalam penggarapan tari kolosal dengan 800-an penari dari sejumlah wilayah di Jawa Timur untuk penutupan SEA Games 1997 di Jakarta.

Sumber

Rabu, 06 Maret 2013

Kumpulan Puisi Karya Remy Soetansyah Dirilis dalam Bentuk Buku

Sebuah kumpulan puisi karya almarhum Remy Soetansyah dirilis dalam bentuk buku. Buku itu berjudul 'Ada Cowok, Ada Bunga Merah, Ada Wine, Ada Sebuah Senyum'.

Sekitar 300 puisi karya wartawan senior itu terdapat di dalam buku tersebut. Puisi-puisi itu ditulis Remy dari tahun 1978 hingga terakhir tahun 2011.

"Puisi Remy buat kami adalah warisan yang paling romantik yang ditinggalkan Remy buat kami semua. Sebelum dia meninggal, dia memang berencana ingin membuat album buku puisi ini," ucap istri almarhum Remy, Ayum Soetansyah saat ditemui di Galeri Nasional Indonesia, Kamis (28/2/2013) malam.

Artis pecinta dunia puisi dan teater, Cornelia Agatha berharap dengan adanya buku itu karya-karya Remy tetap bisa dikenang. Ia pun merasa bangga bisa membawakan puisi-puisi karya almarhum.

"Ada kebahagian tersendiri bawain puisi dia. Karyanya legend. Semoga dengan adanya peluncuran puisi-puisi dia karyanya bisa dikenal banyak orang dan terus dikenang oleh banyak orang," katanya.

Remy berpulang ke hadapan Yang Maha Kuasa pada 30 Oktober 2012.

Sumber

Ayu Utami, 15 Tahun Setelah 'Saman'

Lima belas tahun setelah 'Saman', novel yang femonenal itu, terbit Ayu Utami masih menjadi daya tarik dunia sastra Indonesia. Acara peluncuran novel terbarunya di Salihara, Selasa (19/2/2013) malam terpaksa dipindah dari serambi ke galeri karena pengunjung membludak.

Ayu berdiri di podium, tampak menjulang tinggi dengan celana jins hitam dan baju tanpa lengan dengan warna yang sama. Sinar lampu menyiram wajahnya, dan ia terus melempar senyum. Namun, ketika berbicara, suaranya bergetar, seperti menahan sesuatu.

"Kita tadi telah banyak berbicara tentang ketakutan," ujarnya setelah dua jam diskusi menandai peluncuran bukunya, 'Pengakuan eks Parasit Lajang'. "Yang saya inginkan, perempuan bebas dari rasa itu," sambungnya.

Beberapa kali Ayu seperti kehilangan kata-kata. Diam beberapa saat, lalu berbicara lagi dengan suara yang terus saja bergetar. "Lima belas tahun telah berlalu sejak Saman, sejak reformasi, dan ini adalah momen yang mengharukan," katanya.

"Ya, saya memang sudah menikah. Tapi, hubungan kami seperti Maria dan Joseph...yang tidak bersetubuh lagi," demikian Ayu melanjutkan dengan mencoba menyelipkan kelakar. Tapi, suasana ruangan memang sudah telanjur khidmat. Dan, hening.

Sejak Ayu naik ke podium usai bukunya dibedah oleh dosen filsafat UI Saras Dewi, hadirin seperti menunggu sebuah 'pidato politik' yang menjelaskan tentang perubahan Ayu. Dari seorang perempuan novelis yang mengikrarkan diri tidak menikah, menjadi Ayu yang "akhirnya menikah juga".

Tapi, Ayu berbicara agak meloncat-loncat, dan ia memulai dengan semacam kenangan. "Zaman saya muda, feminis harus tampak maskulin. Sekarang mereka tak takut dengan keperempuanannya, dan itu perubahan yang terjadi," ujarnya.

Ia melanjutkan. "Sepuluh tahun yang lalu, ketika saya bilang pada ibu bahwa saya tak ingin menikah, ibu selalu bilang ke orang-orang, ah dia emang pengennya bebas. Tapi, bebas yang saya inginkan tidaklah seperti yang ibu bayangkan."

Ayu menuturkan, buku 'Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa dan Cerita' yang terbit pertama pada 2003 telah mengilhami banyak perempuan yang oleh berbabai sebab memilih jalan hidup melajang. "Buku itu dipakai banyak orang untuk memperkuat diri ngadepin (tekanan) masyarakat," tuturnya.

Ketika belakangan ternyata Ayu kemudian menikah, ia pun merasa harus mempertanggungjawabkan perubahannya itu kepada orang-orang yang telah menjadikan dirinya inspirasi. "Saya memang telah menikah, tapi sebenarnya saya tidak berubah. KTP saya masih single," lagi-lagi Ayu mencoba mencairkan keheningan yang tegang.

"Saya tidak mengkhianati para lajang. Mudah-mudahan mereka yang merasa telah dikhianati, bisa membaca buku (Pengakuan eks Parasit Lajang) ini dengan komprehensif," harapnya.

"Buku ini saya persembahkan untuk orang-orang yang merasa saya tinggalkan ketika saya akhirnya menikah," sambungnya. "Ini buku yang paling penting dalam hidup saya, karena ini sebuah pengakuan. Bagi saya, seni dan sastra memang adalah upaya mencari estetika untuk kejujuran, sehingga kita bisa memandang kebenaran tanpa rasa takut," tandas Ayu.

Sumber

Setelah Jakarta, 'Hanoman The Musical' Siap Dipentaskan di 3 Benua

Setelah sukses dengan 'Jabang Tetuko', 'Gatotkaca Kembar', dan 'Arjuna Wiwaha', sutradara Mirwan Suwarso kembali menggarap pertunjukan musikal yang diangkat dari wayang. Kali ini, 'Hanoman The Musical' akan dipentaskan di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, 23 Februari.

Pentas tersebut rencananya juga akan diboyong ke Amerika Serikat pada Juni nanti. Oleh karenanya, Mirwan melibatkan tak hanya seniman lokal tapi juga seniman-seniman luar negeri. Antara lain Sydney James Harcourt ('The Lion King New York), Daniel Torres (Andrew Lloyd Webber's Evita ) hingga Willis White ('Hairspray').

Dari dalam negeri, 'Hanoman The Musical' menggandeng Volland Humonggio sebagai Hanoman serta nama-nama lain seperti Aqi 'Alexa', Anji dan Piyu. Rencananya, selain ke Amerika, pertunjukan tersebut juga akan dibawa ke dua benua lainnya yakni Australia dan Eropa.

"Rencananya Hanoman ini akan Go International, tapi sebelumnya akan dipentaskan dulu di Tennis Indoor," ujar Renitasari selaku Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation yang menyeponsori proyek tersebut di Nutz, Senayan City, Jakarta Selatan, Kamis (7/2/2013).

"Alhamdulillah setelah mencoba 2 tahun menemukan format yang bisa dipasarkan secara international. Akhirnya Desember - Januari kemarin kita berhasil menarik banyak promotor di Amerika," timpal Mirwan.

Untuk pertunjukan di Tennis Indoor Senayan, 'Hanoman The Musical' dipasarkan dengan harga tiket mulai Rp 200.000 hingga 2 juta.

Sumber

'Buto Musikal' Bertabur Bintang di Panggung Teater

Intertwine Performing Arts Company akan menampilkan teater musikal pertamanya berjudul 'Buto Musikal'. Sederet artis ternama Tanah Air turut memeriahkan pagelaran tersebut.

Ada Sita Nursanti, Andrea Miranda, Netta KD, Simhala Avadana, Dea Mirella, Ronny Waluya, dan Nina Tamam. Drama musikal itu disutradarai Farid Syahputra, Arif Dharma untuk ide cerita dan musik, serta Eko Suprianto sebagai pengarah tari.

Menurut farid, pertunjukan itu akan jadi istimewa. 'Buto Musikal' terinspirasi dari cerita legenda di Jawa Tengah, sehingga pementasannya akan kental dengan perpaduan unsur tradisional dalam kemasan musik yang modern.

"Kita mau angkat pesan moralnya. Sering kita dengar istilah, don't judge book by it's cover. Itu yang mau kita tampilkan. Secara musikal, koreografi, dari segi teknologi, dan juga skrip akan banyak inovasinya," ungkapnya dalam jumpa pers di Marley Signature Bar and Food, Energy Building, SCBD, Jakarta, Rabu (6/2/2013).

Kata Arif Dharma, drama musikal itu terinspirasi dari cerita Timun Emas. Di sini, ia mencoba mengambil sudut pandang berbeda dari sosok Buto yang dikenal jahat, dan menyeramkan.

"Menarik sekali buat cerita musikal dari sudut pandang Buto, yang seorang raksasa. Kita angkat kisah baru yang terinspirasi dari Timun Mas. Kita angkat sosok Buto Godog yang baik hati. Tantangannya, gimana menampilkan raksasa menyeramkan tapi baik hati," jelasnya.

Ditambahkan Arif, pementasan 'Buto Musikal' itu didukung oleh 25 musisi yang tergabung dalam orkestra megah dalam perpaduan orkestrasi, dan gamelan Jawa yang apik.

Pertunjukan berdurasi 2,5 jam itu akan diselenggarakan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada Juni mendatang. Tak tanggung-tanggung, 'Buto Musikal' akan digelar 35 kali selama sebulan penuh.

Tiket sendiri sudah bisa dipesan melalui www.rajakarcis.com pada 7 Februari besok. Harganya bervariasi mulai dari. Rp 100 ribu, hingga Rp 850 ribu.

Sumber