Oleh PURNAWAN ANDRA
Dunia pertanian Nusantara mengenal sebuah alat bernama lesung atau lumping. Semacam alat tradisional yang dapat mengubah gabah menjadi beras. Alat dari kayu ini berbentuk seperti perahu kecil dengan panjang sekitar 2 meter, lebar 0,5 meter, dan kedalaman sekitar 40 sentimeter. Di dalam lesung ini kulit gabah (sekam, merang) dipisahkan dengan cara ditumbuk alu, tongkat kayu yang tumpul, sehingga muncullah beras.
Lesung tak hanya sebuah alat. Ia juga sebuah realitas antropologis. Umumnya rakyat Indonesia, lebih khusus orang Jawa, tidak bisa memisahkan hidupnya dari padi yang menghasilkan beras dan nasi, sebagai makanan pokok.
Padi dianggap pengejawantahan dari bagian tubuh Dewi Sri (Dewi Kesuburan) yang memiliki banyak kegunaan. Mulai dari kulit luar padi (sekam), kulit yang agak kasar (dedak), kulit ari (bekatul), butir inti (beras), tangkai padi (merang), batang tanaman padi (damen/jerami) semuanya dapat dimanfaatkan.
Pada masanya, di desa-desa di Jawa, setiap subuh selalu terdengar bunyi bertumbuknya ujung alu dengan lesung. Para ibu tengah menumbuk padi, menyiapkan makanan bagi keluarganya. Kegiatan inilah yang dalam mitologi Jawa membuat Roro Jonggrang terselamatkan dari anaknya sendiri, Bandung Bondowoso, yang bernafsu hendak menjadikannya sebagai istri.
Berkat pukulan lesung dan alu yang menandakan hari sudah pagi, ayam pun berkokok. Apalagi tumpukan jerami dibakar sehingga hari seolah sudah pagi. Usaha Bandung pun gagal memperistri ibunya sendiri.
Lebih dari makna mitologis, lesung juga menjadi penanda pergumulan identitas dan spiritualitas, termasuk relasi antara menguasai dan dikuasai. Bentuknya yang menyerupai mangkok atau cawan panjang, lesung adalah simbol dari yoni, yang sampai hari ini dipahami mewakili kelamin perempuan.
Bersama alu, tongkat tumpul pasangannya, keduanya menggambarkan sebuah relasi
Dalam pemahaman kontinental atau daratan, meminjam istilah Radhar Panca Dahana, simbol natural ini kemudian dipahami secara rasional sebagai mekanisme relasi yang dominatif, di mana posisi lelaki dominan dan perempuan sub-ordinatif. Posisi alu yang di atas dan memukul-mukul lesung menjadi semacam alegori dari sistem dominatif maskulin itu.
Ritme yang tercipta dalam tumbukan alu-lesung adalah buah kesepakatan jiwa para penumbuknya, juga kesepakatan jiwa antara manusia dan alamnya. Ia menjadi musik tersendiri, yang menggembirakan. Yang menciptakan integrasi antara kegiatan ekonomi, sosial, kultural, bahkan spiritual.
Maka, betapa indah, nyaman, tenteramnya hati, saat ”tumbuk alu dan lesung” masih terjadi. Para penumbuk padi berbincang, bersenda gurau, dan berbagi cerita. Kerukunan dan kedekatan emosional pun membuat suasana pedesaan menjadi hangat dan harmonis.
Pergantian zaman tak bisa dielak. Industri dan rasionalisme tiba di negeri bahari ini,
Aksi kontinental yang koersif dan represif ini cukup berhasil membuat negeri harmonis dan tenteram ini, melupakan jati dirinya. Bahkan memaksa diri, suku bangsa dan bangsa, memeluk peradaban baru.
Di kala itulah, alat-alat tradisional bahari pun mengalami gerusan bentuk dan reduksi nilai, bahkan banyak di antaranya yang punah. Termasuk lesung dan alunya. Teknologi pertanian modern mendesak petani untuk menggunakan mesin, mulai dari membajak sawah hingga menggiling padi dan memproduksi beras.
Konon, teknologi itu murah, efisien, dan mudah. Mungkin. Tapi teknologi tidak menciptakan musik, kehangatan, senda gurau, dari harmoni kehidupan (sosial) yang ribuan tahun dibina bangsa Nusantara. Musik berganti polusi. Sawah-sawah terjual ke pemodal. Harga dikendalikan tengkulak. Petani termarjinalkan.
Alu dan lesung kini teronggok, sepi, lapuk dan rapuk,