Sekitar sepekan terakhir ini Tri Broto Wibisono sibuk merampungkan tembang dolanan anak-anak yang dia garap ulang dengan sentuhan gamelan agar lebih menarik bagi anak-anak. Dia bertekad menggarap ulang tembang dolanan karena prihatin dengan langkanya anak-anak ataupun guru kesenian di sekolah yang mengenal tembang dolanan.
Padahal, bagi seniman tari kelahiran Surabaya ini, tembang dolanan tak sekadar nyanyian, tetapi di dalamnya terkandung pula nilai-nilai keluhuran budi pekerti dan kejujuran. ”Kini jarang sekali tembang dolanan didendangkan di sekolah, juga di sanggar seni tari,” ungkap Tri (58).
Oleh karena itulah dia bertekad menggarap ulang tembang dolanan anak-anak untuk sanggar tari Bina Tari Jawa Timur. Tri adalah salah seorang pendiri sanggar Bina Tari Jawa Timur pada 1977. Sejak itu, dia bisa dikatakan total berkesenian.
”Bersama sahabat saya Harimudji Wahjono, kami mendirikan Bina Tari Jawa Timur. Waktu itu masyarakat Jawa Timur, terutama di perkotaan, awam dengan tari jawa timuran. Tari itu hanya dikenal di daerah asalnya. Misalnya, tarian Madura terasa asing bagi warga di perkotaan, seperti Surabaya,” katanya.
Kelahiran sanggar Bina Tari Jawa Timur yang bertahan hingga kini di Surabaya memang tak lepas dari kegelisahan Tri sejak dia belajar seni tari di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surabaya.
Meski belajar di sekolah seni, ia merasa tak mendapat cukup banyak materi pelajaran tentang tari-tarian jawa timuran, kecuali tari remo dan jejer gandrung banyuwangi.
”Kala itu belum ada upaya kita untuk mengangkat dan menggarap tarian jawa timuran secara total. Bahkan, SMKI saja hanya mengajarkan tari remo dan gandrung banyuwangi karena yang dominan saat itu adalah tarian gaya Surakarta, tari Sunda, dan tari Bali,” kata Tri.
Kegelisahan dan keprihatinan atas kurangnya perhatian terhadap tari jawa timuran itulah yang mendorong Tri, alumnus SMKI Surabaya tahun 1975, mendirikan sanggar tari. ”Nama sanggar Bina Tari Jawa Timur dipilih agar tarian jawa timuran bisa dekat dengan masyarakat di mana pun,” katanya.
Melalui pendekatan pemadatan dan garapan baru tari tradisi khas jawa timuran, Tri mengajari anak didiknya di sanggar. Pada awal berdirinya sanggar, hanya lima siswa usia remaja yang berlatih. Seiring berjalannya waktu, siswa sanggar pun bertambah dari anak-anak sampai mahasiswa.
Tahun 2000-an, anak didik sanggar mencapai 150 orang. Namun, kini jumlah siswanya menurun, 90-100 orang dan sebagian besar usia TK dan SD. ”Dulu, iuran di sanggar sekitar Rp 3.000 per bulan, sekarang Rp 30.000. Itu pun relatif masih murah,” ujarnya.
Kesenimanan Tri, suami dari Titik Budi Rahayu, ini diasah sejak 1973. Dia melakukan pendalaman, pengamatan, pengkajian, serta pelatihan seni tari dan karawitan di sejumlah pusat kesenian tradisi di Jawa Timur, seperti di Surabaya, Malang, Banyuwangi, dan Madura.
”Sebelum belajar tari topeng malangan, saya perlu mengamati tarian itu selama setahun di pusat kesenian tari topeng di Malang. Anak muda sekarang umumnya sudah puas hanya bisa menari topeng, tanpa pendalaman,” katanya.
Konsistensi Tri mendalami, mengembangkan, dan melestarikan tarian jawa timuran sejak 1970-an hingga kini membuat dia dikenal berbagai kalangan. Kiprahnya sebagai guru dan pelatih tari anak-anak telah membuahkan hasil. Berkat ketelatenan dan kesabarannya, telah lahir guru dan pelatih tari yang tersebar di berbagai sanggar dan sekolah, khususnya di Surabaya.
”Arif Rofiq dan Agustinus Harianto (keduanya seniman tari ternama Surabaya) pernah belajar tari di sanggar Bina Tari Jawa Timur,” kata Tri menyebut dua di antara sekitar 500 orang yang pernah belajar di sanggarnya.
Selain berkecimpung di dunia tari, sehari-hari Tri bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di
Meski telah pensiun, penerima penghargaan sebagai Seniman Tradisi dari Gubernur Jatim pada 2006 ini bertekad melestarikan tarian jawa timuran sampai ajal menjemputnya.
”Sejak awal berdirinya sanggar Bina Tari Jawa Timur, saya selalu diminta menjadi ketuanya. Sebetulnya saya ingin ada teman lain yang menjadi ketua biar mereka punya pengalaman dalam mengelola sanggar tari. Kalau saya nanti meninggal, ada gantinya,” tutur Tri yang tak ingin sanggar Bina Tari Jawa Timur identik dengan dirinya.
Kendati imbalan honor sebagai guru/pelatih di sanggar Bina Tari Jawa Timur tak lebih dari Rp 175.000 per orang per bulan, sekitar 10 guru di sanggar ini tetap membagi ilmunya dengan sepenuh hati.
”Sanggar tari memang bukan
Meski begitu, ia merasa prihatin dengan semakin sulitnya melakukan regenerasi seniman, guru ataupun pelatih tari tradisional. Apalagi penari yang ada pun banyak yang tak mau mengembangkan kreativitas seninya. Ia khawatir suatu hari nanti tari jawa timuran akan lenyap.
”Tari jawa timuran sudah dikenal luas, tetapi bagaimana nanti kalau tak ada yang mau melestarikan?” ujar Tri yang menjadi sutradara dalam penggarapan tari kolosal dengan 800-an penari dari sejumlah wilayah di Jawa Timur untuk penutupan SEA Games 1997 di Jakarta.
Sumber